Tonel Tebat Patah dan Pekerjaan Keberlanjutan Pembangunan Kebudayaan
Oleh: Ady Santoso
Pementasan Tonel Tebat Patah di Teater Arena Taman Budaya Jambi pada Senin malam, 20 April 2026, dapat dibaca lebih dari sekadar sebagai peristiwa seni semata. Pertunjukan yang bukan hanya tentang tubuh-tubuh aktor yang bergerak di atas panggung, bukan pula sekadar tentang cerita yang disampaikan kepada penonton, melainkan adalah sebuah peristiwa kebudayaan, tentang dimana sebuah titik temu antara tradisi, kebijakan, praktik artistik masyarakat, dan masa depan dari kebudayaan. Momentum inilah yang kemudian menjadikannya sebagai peristiwa kebudayaan yang penting ketika ditempatkan dalam konteks paska penetapan Tonel Tebat Patah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) di tahun 2025, karena pada beberapa kasusnya, penetapan WBTB sering kali hanya berfungsi sebagai bentuk pengakuan simbolik negara terhadap suatu ekspresi budaya, yang kemudian setelahnya dari pengakuan tersebut kerap berhenti sebagai arsip administratif yang tercatat, diakui, tetapi tidak selalu dihidupkan secara berkelanjutan dalam praktik kesehariannya di masyarakat pendukungnya. Peristiwa pertunjukan Tonel Tebat Patah yang telah digelar di Teater Arena Taman Budaya Jambi, saya pandang sebagai upaya dalam menemukan titik relevansi, yang mana hadir bukan sebagai “warisan” yang dibekukan, melainkan sebagai praktik yang diaktifkan. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah pementasan tersebut merupakan tanda dari keberlanjutan yang mulai dibangunkan?
Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa penetapan WBTB pada dasarnya merupakan langkah penting dalam politik kebudayaan. Negara, melalui mekanisme tersebut, pemerintah hadir sebagai upaya dalam usaha untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan melindungi ekspresi budaya yang dianggap memiliki nilai penting bagi identitas bangsa. Namun, persoalan mendasar justru terletak pada apa yang terjadi setelah penetapan itu. Adalah hal yang menurut saya sering kali terjadi ialah, daftar daftar WBTB kemudian hanya berhenti sebagai tabel daftar dari banyaknya ekspresi budaya yang telah ditetapkan. Ia kemudian menjadi katalog kebudayaan yang membanggakan, tetapi tidak selalu berfungsi sebagai dasar bagi kebijakan pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan. Oleh karenanya tidak jarang, setelah ditetapkan, sebuah ekspresi budaya tradisi justru mengalami stagnasi tidak lagi berkembang, tidak lagi menjadi bagian aktif dari kehidupan masyarakat, dan perlahan kehilangan relevansinya. Dalam konteks inilah, pertunjukan Tonel Tebat Patah dapat dibaca sebagai bagian dari upaya untuk menolak stagnasi tersebut. Namun kemudian, adalah upaya tersebut juga sekaligus membuka pertanyaan kritis ialah, apakah pementasan tersebut merupakan bagian dari strategi kebudayaan yang terencana, atau sekadar inisiatif sesaat dari para pemangku kebijakan?
Pengakuan dan Perawatan
Saat ini kita perlu bersyukur, dimana pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kebudayaan diupayakan untuk terus hidup dan berdenyut, dan ditempatkan sebagai unsur pembangunan bangsa yang berdiri sediri, yakni dengan hadirnya Kementerian Kebudayaan, yang perlu dipandang sebagai upaya percepatan pembangunan kebudayaan yang lebih produktif. Namun hal yang kemudian menjadi catatan penting dalam hal WBTB ialah, dimana setelah ditetapkannya suatu ekspresi budaya pada suatu daerah sebagai WBTB, masih sering ditemukan adanya kegagapan dalam hal keberlanjutan. Setiap tahunnya daftar WBTB bertambah, nama-nama ekspresi budaya dari pelbagai daerah dicatat, sertifikat diberikan, seremoni digelar, namun setelah itu, ruang menjadi sunyi. Hal tersebut menjadi refleksi bagi semua, bahwa tidak ada jaminan pada data WBTB yang telah ditetapkan akan terus dipraktikkan. Namun dalam situasi yang telah tersaji di Teater Arena Taman Budaya Jambi, pertunjukan Tonel Tebat Patah yang telah digelar muncul sebagai sesuatu yang paradoksal, yang mana menjadi bukti bahwa tradisi masih bisa dihidupkan oleh masyarakat Desa Tebat Patah, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi.
Dalam konteks perawatan inilah, Tonel Tebat Patah dapat dibaca sebagai upaya untuk menolak stagnasi tersebut. Ia menghadirkan tradisi dalam bentuk yang hidup, dipentaskan, ditafsirkan ulang, dikreasikan kembali dan dipertemukan dengan penonton masa kini dengan isu-isu sosial yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Secara artistik, Tonel Tebat Patah menawarkan pembacaan menarik tentang bagaimana tradisi dapat dihadirkan dalam ruang pertunjukan modern, seperti pada pertunjukan yang digelar di Teater Arena Taman Budaya Jambi. Tonel Tebat Patah, sebagai bentuk teater rakyat, memiliki karakteristik yang khas, kedekatan dengan penonton, penggunaan bahasa sehari-hari, serta struktur dramatik yang cair. Dalam pertunjukan inilah, idiom-idiom lokal seperti pantun, gestur tubuh, dan ritme permainan aktor menjadi elemen penting yang membangun pengalaman estetika. Penonton tidak hanya menjadi pengamat pasif, tetapi juga bagian dari dinamika pertunjukan. Di sinilah letak kekuatan Tonel Tebat Patah, dimana ia tidak menciptakan jarak, melainkan kedekatan. Namun, kekuatan ini sekaligus menjadi tantangan. Dalam konteks masyarakat yang terus berubah, terutama dengan hadirnya generasi muda yang memiliki preferensi estetika berbeda, pertanyaan tentang relevansi menjadi tidak terhindarkan. Tonel Tebat Patah perlu perawatan, perlu transformasi agar tetap hidup dan mampu berbicara kepada generasi hari ini dan berikutnya.
Tradisi dan Inovasi
Salah satu jebakan dalam upaya pelestarian budaya adalah romantisme, yang dimana tradisi sering kali dipandang sebagai sesuatu yang harus dijaga dalam bentuk “aslinya”, tanpa perlu adanya perubahan. Pendekatan ini, meskipun tampak melindungi, justru berpotensi membekukan tradisi. Romantisme tradisi membuat kebudayaan kehilangan daya hidupnya, yang dapat menggiringnya menjadi koleksi museum, yang indah untuk dilihat, tetapi tidak lagi relevan untuk dijalani. Dalam konteks ini, Tonel Tebat Patah menghadapi tantangan yang tidak sederhana, tentang bagaimana menjaga nilai-nilai tradisional tanpa terjebak dalam nostalgia yang menghambat perkembangan? Untuk itulah perawatan transformasi adalah penghadiran inovasi yang kemudian menjadi kunci, tetapi inovasi juga yang bukan tanpa risiko. Perubahan yang terlalu jauh dapat membuat tradisi kehilangan identitasnya, namun sebaliknya juga, perubahan yang terlalu kecil dapat membuatnya stagnan. Di sinilah diperlukan kedalaman pemahaman, bahwa yang harus dijaga bukan hanya bentuk, tetapi juga makna. Pada tingkat itulah, tradisi juga dapat dibaca sebagai bagian dari produksi identitas.
Tonel Tebat Patah sebagai bagian dari WBTB tentulah memiliki potensi menjadi simbol identitas Jambi. Namun, simbol ini hanya akan bermakna jika didukung oleh praktik yang hidup, dalam konteks inilah, kebudayaan selalu terkait dengan kekuasaan, yang dalam arti siapa yang menentukan apa yang dianggap sebagai budaya, dan bagaimana budaya itu ditampilkan. Untuk itulah, melihat pementasan Tonel Tebat Patah pada 20 April 2026 di Teater Arena Taman Budaya Jambi seharusnya tidak berhenti sebagai peristiwa budaya saja. Ia harus menjadi bagian dari proses yang lebih panjang, proses dari membangun sistem kebudayaan yang berkelanjutan. Untuk itulah, momentum suguhan keberlanjutan dari Tonel Tebat Patah yang merupakan WBTB Jambi, adalah momentum pekerjaan pembangunan kebudayaan yang membutuhkan, roadmap pembangunan kebudayaan Jambi, penguatan kelembagaan Taman Budaya Jambi sebagai episentrum pembangunan kebudayaan Jambi, dukungan kebijakan yang konsisten terhadap pembangunan kebudayaan Jambi, investasi pada generasi muda melalui manajemen talenta seni budaya Jambi, dan dokumentasi dan arsip digital yang serius.
Pekerjaan Pembangunan Kebudayaan
Pertunjukan yang baik tidak lahir dari ruang hampa. Ia membutuhkan ekosistem yang mendukung, ruang pertunjukan, sistem produksi, pendanaan, pelatihan, hingga jaringan distribusi. Dalam banyak kasus, justru aspek inilah yang paling lemah dalam pengelolaan kebudayaan. Kehadiran Taman Budaya Jambi sebagai ruang pertunjukan tentu merupakan modal penting. Namun, ruang saja tidak cukup. Ia perlu dihidupkan melalui program yang berkelanjutan, kurasi yang jelas, serta dukungan terhadap para pelaku seni budaya Tanpa ekosistem yang kuat, pertunjukan seperti Tonel Tebat Patah akan selalu berada dalam siklus yang sama, diproduksi dengan susah payah, dipentaskan sekali atau dua kali, lalu menghilang tanpa dokumentasi dan tanpa kesinambungan. Untuk itulah keberlanjutan kebudayaan sangat bergantung pada siapa yang menikmatinya. Jika pertunjukan hanya ditonton oleh komunitas terbatas, maka ia akan sulit berkembang. Sebaliknya, jika mampu menjangkau publik yang lebih luas, terutama generasi muda maka peluang keberlanjutannya menjadi lebih besar. Tonel Tebat Patah membuka peluang untuk itu, tetapi masih membutuhkan strategi yang lebih sistematis, mulai dari edukasi penonton, integrasi dengan sekolah, serta pemanfaatan media digital.
Tonel Tebat Patah telah menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki daya hidup. Ia tidak mati, tidak hilang, dan tidak sepenuhnya tergantikan oleh budaya populer global. Namun, daya hidup itu tidak akan bertahan tanpa perawatan. Penetapan WBTB seharusnya menjadi awal, bukan akhir. Ia adalah pengingat bahwa kebudayaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijalani, dan di atas panggung sederhana di Teater Arena itu, kita tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan. Kita sedang menyaksikan sebuah kemungkinan, bahwa tradisi, jika dirawat dengan serius, masih bisa menjadi bagian dari masa depan. Oleh karena itu, WBTB seharusnya tidak berhenti pada pengakuan, melainkan menjadi pintu masuk bagi pembangunan ekosistem kebudayaan yang lebih kuat ke depan. Pekerjaan pembangunan kebudayaan, pada akhirnya, bukanlah proyek yang bisa ditandai dengan garis selesai. Ia bukan program jangka pendek, bukan pula capaian yang cukup dirayakan dengan seremoni dan laporan kinerja. Ia adalah pekerjaan panjang, pekerjaan yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk terus mengoreksi diri.
Oleh karenanya, kebudayaan tidak bekerja dalam logika kuantitas semata. Ia hidup dalam proses, dalam relasi antara manusia, dalam praktik sehari-hari, dalam cara sebuah masyarakat memahami dirinya sendiri. Pada titik inilah pembangunan kebudayaan menuntut pergeseran cara pandang, yang dari yang semula berorientasi pada peristiwa, menjadi berorientasi pada sistem, dari yang semula mengejar pengakuan, menjadi merawat keberlanjutan, dari yang semula bersifat seremonial, menjadi kerja yang benar-benar menyentuh kehidupan. Pertunjukan Tonel Tebat Patah yang berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Jambi memberi kita pelajaran penting, bahwa kebudayaan harus terus memiliki daya hidup, tetapi daya itu tidak akan bertahan tanpa perawatan yang serius. Ia membutuhkan ruang yang terus dihidupkan, pelaku yang terus diberdayakan, dan generasi yang terus dilibatkan. Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah kesadaran kolektif, bahwa kebudayaan bukan hanya tanggung jawab budayawan, seniman, komunitas, lembaga dan bukan pula semata urusan negara. Ia adalah kerja bersama, kerja yang melibatkan masyarakat luas sebagai pemilik sekaligus pewarisnya. Karena itu, keberlanjutan tidak boleh lagi dipahami sebagai slogan. Ia harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata, kebijakan yang konsisten, program yang berkesinambungan, pendidikan yang terintegrasi, serta dokumentasi yang serius. Tanpa itu, kita hanya akan terus bergerak dalam lingkaran yang sama, memulai, merayakan, lalu mengulang dari awal. Pembangunan kebudayaan menuntut keberanian untuk melampaui kebiasaan itu. Ia menuntut kita untuk tidak cepat puas, untuk tidak berhenti pada apa yang sudah dicapai, dan untuk terus membuka kemungkinan baru.
Sebab kebudayaan, sejatinya, bukan hanya warisan dari masa lalu. Ia adalah cara kita membayangkan masa depan. Dan masa depan itu tidak akan hadir dengan sendirinya. Ia harus dikerjakan, pelan, tekun, dan tanpa henti.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
