Hormuz Tegang! Perang Iran-Amerika Hentikan Pengiriman Minyak Global
BICARA PERISTIWA - Ketegangan militer yang kian memuncak di kawasan Timur Tengah pada Sabtu (28/2/2026) mulai menghantam urat nadi ekonomi dunia. Sejumlah perusahaan minyak internasional dan perusahaan dagang terkemuka dilaporkan telah menangguhkan seluruh aktivitas pengiriman bahan bakar melalui Selat Hormuz. Langkah drastis ini diambil guna menghindari risiko keamanan menyusul rangkaian serangan udara dan laut yang melibatkan kekuatan besar di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, para pelaku industri energi memilih untuk menahan armada kapal tanker mereka di posisi aman hingga situasi dinyatakan kondusif. Ketidakpastian mengenai jaminan keamanan maritim di jalur perdagangan tersibuk dunia ini memicu kekhawatiran akan terjadinya lonjakan harga minyak mentah secara global.
Seorang eksekutif senior dari salah satu perusahaan perdagangan besar memberikan konfirmasi mengenai keputusan sulit ini kepada kantor berita Reuters.
“Kapal-kapal kami akan tetap berada di tempatnya selama beberapa hari,” ungkapnya, memberikan gambaran betapa berisikonya melintasi jalur tersebut di tengah baku tembak rudal lintas batas.
Selat Hormuz merupakan titik sumbat (choke point) paling krusial bagi industri energi global. Jalur air sempit yang membentang di antara Semenanjung Arab dan Iran ini menjadi pintu keluar masuk bagi sekitar 20 juta barel minyak mentah dan berbagai jenis bahan bakar lainnya setiap hari.
Volume tersebut mewakili sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini dapat memicu efek domino yang mengancam stabilitas ekonomi di berbagai belahan bumi, mulai dari kenaikan biaya logistik hingga kelangkaan pasokan energi di negara-negara pengimpor.
Penangguhan ini merupakan dampak langsung dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan menyasar aset-aset strategis di sekitar Teluk. Kelompok-kelompok proksi di kawasan tersebut juga dilaporkan meningkatkan aktivitas pengintaian dan serangan terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara-negara yang berkonflik.
Kondisi pada akhir Februari 2026 ini menempatkan dunia dalam ancaman krisis energi yang lebih parah dibandingkan dekade sebelumnya. Para analis memprediksi bahwa jika penutupan atau penangguhan ini berlangsung lebih dari satu minggu, maka harga minyak dunia dapat menembus rekor tertinggi baru, yang pada akhirnya akan membebani konsumen global melalui kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik.
Sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
