Wednesday, February 25, 2026

Lukisan Gua, Jejak Peradaban Seni Tertua di Pulau Muna


BICARA WISATA
 - Sadam Hussein, bergegas mengendarai motor menuju Liang Metanduno, Desa Liang Kabori, di tengah hamparan bukit-bukit karst di Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), usai membaca publikasi tentang temuan gambar cadas cap tangan tertua di dunia tepat di kampung halamannya, baru-baru ini.

Di dalam Liang Metanduno, yang kira-kira luasnya kurang lebih 2 lapangan voli, dia terdiam lama dan berganti-ganti pose. Berdiri, duduk, dan baring, hanya untuk berusaha memahami aneka gambar cadas di dinding-dinding dan atap liang.

Sejak lama memaknai gambar cadas itu sebagai eksistensi manusia modern awal di Nusantara, dan memengaruhi cara pandangnya memahami lingkungannya. Juga, membulatkan tekadnya mengambil studi Antropologi di Universitas Halu Oleo di Kendari, tahun 2009.

“Ini cerminan pengalaman hidup dan bentuk spiritual yang diekspresikan dan didokumentasikan, seperti gaya hidup berburu dan mementaskan tangan di dinding, yang mungkin memiliki arti khusus atau nilai ritual,” katanya.

Dia menghabiskan waktu berjam-jam, berusaha memaknai misteri gambar-gambar cadas itu. Menggabungkan pengalaman sejak kecil mendatangi gua ini dengan temuan terbaru hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, dan Kementerian Kebudayaan, dalam upaya memberikan konteks luas kekayaan arkeologi Indonesia yang memiliki lebih dari 700 seni cadas dengan sejarah mencapai 50.000 tahun.

Adhi Agus Oktaviana, arkeolog Badan Riset Nasional Indonesia (BRIN), menjadi pimpinan proyek ini. Berkolaborasi dengan peneliti Griffith University, Maxime Aubert, spesialis penanggalan seni cadas menggunakan teknik uranium-series dan Adam Brumm, arkeolog yang fokus pada evolusi manusia.

Kelompok ilmuwan itu mengungkap penemuan monumental gambar cadas atau stensil tangan di Liang Metanduno yang memiliki usia minimum 67.800 tahun. Temuan ini tidak hanya melampaui usia seni cadas Neanderthal di Spanyol, juga menjadi bukti arkeologis tertua di dunia bagi keberadaan Homo sapiens yang melakukan perjalanan maritim menuju benua Australia.

BRIN fokus meneliti rekam jejak budaya maritim, teknik perburuan, hingga dokumentasi evolusi pembuatan perahu yang menjadi jendela penting untuk memahami cara hidup nenek moyang di wilayah Wallacea.

“Ini menunjukan bahwa manusia yang datang dari paparan Sunda ke Paparan Sahul sekitar 70.000 tahun lalu sudah memiliki kemampuan menyeberangi lautan dan juga menggambar,” kata Adhi.

Dia melakukan penelitian di Liang Metanduno sejak 2015, yang kemudian menganalisis sampel temuan lukisan cap tangan, menggunakan metode uranium serius di 2019. Hasilnya, penanggalan sampel itu merupakan lukisan batuan cadas tertua yang penorehannya 67.800 tahun yang lalu.

Temuan pengujian berbagai sampel lain menunjukkan perkembangan seni lukis gua yang dinamis di Muna, dengan rentang dari 67.000-300 tahun lalu, termasuk gambar-gambar geometris yang diduga berkembang di Tenggara Sulawesi.

Salah satu keunikan teknis yang peneliti temukan adalah modifikasi narrowed fingers, sebuah kompleksitas gaya yang membuktikan kematangan kognitif dan perilaku simbolis manusia modern sejak masa Pleistosen.

“Cap tangan jari runcing yang khas di Sulawesi pertama digambar normal, lalu disemprot tulang. Setelah dimodifikasi sedikit, mungkin ke kanan atau ke kiri, baru disemprot tulang lagi. Keruncingan jari berasal dari buku-buku jari, bukan dari ujung kuku.”

Menurutnya, motif lukisan jari runcing terindikasi sebagai khas lukisan cadas tertua. Hal ini berdasarkan sebaran geografis, penanggalan, perbandingan dengan lukisan lain, dan kaitannya dengan manusia modern awal.

Adhi menyimpulkan persebaran manusia pra-sejarah melalui temuan lukisan tangan dengan menjelaskan sebaran cap tangan jari runcing itu dari Sulawesi Selatan (Sulsel) —Sulawesi Tengah (Sulteng)- Sultra.

Dari dua sebaran itu, perkiraannya, penyebaran manusia saat itu bisa lewat darat atau langsung dari Maros—Pangkep menyeberang ke Pulau Muna dan Pulau Buton di Sultra lewat laut. Dia bilang, cap tangan dan gambar mamalia adalah gambar-gambar awal dari manusia modern awal atau Homo Sapiens yang datang ke Wallacea.

“Yang lukisan perahu untuk periode domestikasi, misalnya, perburuan hewan juga yang warna-warna coklat itu lebih mudah 4.000-an tahun.”

Periode itu, katanya, penting sebagai gambar awal penutur Austronesia di Sulawesi. Dia merujuk pada penelitian arkeolog Truman Simanjuntak dan peneliti arkeobotani Hsiao–chun Hung.

Truman, katanya, menunjukkan migrasi penutur Austronesia ke Indonesia timur, termasuk Sulawesi, sekitar 4.000 tahun lalu memicu perubahan besar dalam teknologi, pola hunian, dan sistem subsistensi masyarakat kepulauan.

Sementara itu, riset arkeobotani Hsiao-chun Hung mengungkap, masyarakat Neolitik awal di Taiwan telah membudidayakan padi dan millet sejak sekitar 4.800–4.600 tahun lalu, memperkuat dugaan pertanian ikut menyebar bersama ekspansi Austronesia ke Asia Tenggara Maritim.

Adhi bilang, penyebaran gambar geometris termasuk gambar-gambar di Waburi (pesisir Buton Selatan, Sultra) sekitar 7.000 tahun yang lalu, menunjukan perkembangan gambar geometris ini terjadi di Sulawesi Tenggara. Setelah ‘matang’ di sana, mereka menyebar ke Indonesia Timur seperti Papua dan Maluku.

“Menunjukkan penguasaan maritim yang baik.”

Gambar cadas orang menunggangi kuda di salah satu dinding bongkahan perbukitan karts di sekitar Liang Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Foto: Intan Amelia Hendra.

Tangan perempuan

Narasi penemuan gambar cadas tertua di Metanduno berkorelasi mendalam dengan gagasan yang Cecep Eka Permana ungkap dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Antropologi di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), 2021 lalu. Dia mamandang gambar tangan sebagai “tiruan langsung” dan jejak identitas fisik pembuatnya.

Gambar tangan pada seni cadas, lanjutnya, merupakan kategori stensil, karena teknik pembuatannya menggunakan tangan manusia sebagai cetakan atau penghalang fisik yang ditempelkan langsung pada permukaan dinding gua.

Prosesnya dengan meletakkan telapak tangan pada batuan lalu menyemprotkan pigmen warna di sekelilingnya, sehingga area yang tertutup tangan tetap bersih (tidak terwarnai) sementara area di sekitarnya menjadi berwarna.

Secara spesifik, sebutannya stensil tangan negatif (negative hand stencil), karena menghasilkan siluet atau citra yang bentuk dan ukurannya persis dengan tangan asli pembuatnya, sebagaimana dalam temuan di Liang Metanduno yang menunjukkan sisa pigmen yang disemprotkan (sprayed pigment) di sekitar kesan negatif jari-jari tangan.

Rentang 2015-2016, dia bersama tim mengidentifikasi jenis kelamin pembuat gambar tangan menggunakan metode analisis rasio jari 2D:4D (perbandingan panjang jari telunjuk dan jari manis)—terhadap 675 gambar tangan di 16 situs.

Lokasinya di dua wilayah utama, di Sulsel yang gambar tangan umumnya terdapat pada dinding-dinding gua atau ceruk prasejarah, dan di Papua Barat yang gambar tangan umumnya terdapat pada tebing-tebing pulau di tepi laut.

Sebagai bagian dari metodologi penelitian, mereka melakukan pengukuran jari pada penduduk setempat di sekitar situs-situs itu sebagai referensi pembanding.

Hasilnya, sebagian besar stensil tangan prasejarah milik perempuan, menampik kehidupan dua prasejarah hanya dominan laki-laki. Temuan ini mengubah perspektif gender dalam sejarah prasejarah.

“Hal ini menunjukkan pula bahwa kaum perempuan memiliki peran yang penting dalam kehidupan dan budaya gua pada masa prasejarah itu,” ucap Cecep dalam pidatonya.

Dia juga menghubungkan stensil tangan dengan tradisi ritual mabedda bola (menaiki rumah hunian baru) pada masyarakat Bugis-Makassar yang masih berlangsung saat ini. Di mana cap tangan pada rumah berfungsi sebagai simbol perlindungan dan kepemilikan.

Dalam ritual mabedda bola, katanya, istri dan anak perempuan yang belum haid yang membuat cap telapak tangan pada tiang dan dinding rumah. Sanro (dukun) memimpin ritual ini dengan doa dan sesajen tertentu.

Cap tangan perempuan dalam ritual ini berfungsi sebagai penanda kepemilikan rumah, sarana menolak bala, serta permohonan keberkahan dan keselamatan bagi seluruh penghuni rumah.

Dalam laporannya, Cecep menyertakan dokumentasi foto ritual mabedda bola yang melibatkan sanro dan seorang anak perempuan menempelkan telapak tangan mereka di tiang rumah hunian baru.

Ritual ini dia pakai sebagai analogi untuk menjelaskan keberadaan stensil tangan-tangan di gua-gua prasejarah. Menurutnya, stensil tangan purba kemungkinan besar melalui ritual serupa oleh perempuan–saat kelompok manusia mulai menempati gua atau liang sebagai hunian.

Meski tradisi ini bertahan puluhan ribu tahun, dan bagian integral sejarah panjang Homo sapiens di Wallacea sejak awal migrasi mereka, Cecep mengingatkan adanya ancaman serius mikroorganisme seperti jamur Paecilomyces yang dapat melenyapkan warisan agung ini. Sehingga, perlu sinergi ilmu pengetahuan multidisipliner untuk pelestariannya.

Sebelumnya, dia bilang penemuan seni cadas di Leang Tedongnge berkisar 45.000 tahun lalu, seharusnya memindahkan “kiblat” seni tertua dari Eropa ke Indonesia.

Temuan Metanduno yang berkisar 67.000 tahun lalu secara definitif mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat seni cadas tertua di Indonesia.

Temuan gambar cadas Metanduno juga ungkapkan kesinambungan dan perubahan budaya dalam ribuan tahun di era-prasejarah. Karena, terdapat lapisan seni yang terpisah selama 35.000 tahun, serta lukisan fauna domestik (ayam) dari era Austronesia yang lebih baru.

Hal ini mengorelasikan evolusi dari budaya berburu-meramu menuju masyarakat agraris dan maritim yang lebih kompleks.

Saat ini, stensil Metanduno pudar dan mengalami pengelupasan. Memvalidasi kekhawatiran Cecep mengenai pelapukan alami dan serangan mikroorganisme.

Ancaman biologis seperti jamur Paecilomyces yang menyerang situs-situs di Sulawesi menjadi pengingat penting upaya konservasi di situ Metanduno agar warisan ini tidak hilang.

Dia percaya keterlibatan profesi lain dapat membantu menguak aspek-aspek kompleks manusia purba yang tidak bisa dijawab oleh arkeologi murini, meliputi aspek sosial, budaya, ekonomi, religi, kesehatan, hingga sain dan teknologi.

Deretan gambar cadas di salah satu dinding dan atap Liang Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Foto: Intan Amelia Hendra.

Studio kompleks

Eksar Fredy Wijaya, seniman visual alumnus pasca sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, berusaha merekam ulang bagaimana lukisan cadas itu bertransformasi menjadi sumber pengetahuan untuk memahami peradaban berkembang.

Sejak 2019, pria asal Sultra ini mencoba refleksikan lukisan cadas di Sulawesi menggunakan pendekatan kesusastraan Epos La Galigo, karya sastra epik mitologi suku Bugis dari Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai salah satu epos terpanjang di dunia.  Bahkan lebih panjang dari Mahabharata, mengisahkan penciptaan dunia, asal-usul manusia. UNESCO mengakuinya sebagai Memory of the World.

Epos La Galigo terus menjadi inspirasi budaya serta seni pertunjukan hingga kini.

Dia menggunakan pendekatan multidisiplin seperti riset artistik, studi budaya, teori performa, dan pendekatan sejarah dalam proses kreatifnya. Baginya, pendekatan seni lebih efektif mengungkapkan cara memahami peradaban manusia di masa lalu.

Keinginan itu tumbuh sejak pertama kali mengunjungi Liang Metanduno, 2014 lalu, dan takjub akan mahakarya seni cadas itu. Ketika itu dia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Lama bergelut mengamati seni cadas yang tersebar di berbagai wilayah Sulawesi, dia berasumsi seni cadas merupakan bentuk pengarsipan pertunjukan masyarakat purba, bentuk modernitas awal. Seperti di Metanduno, yang memvisualisasikan perkembangan manusia dari berburu hingga menjinakkan (menunggangi) hewan, maritim, dan penggunaan alat transportasi.

Menurutnya, Liang Metanduno merupakan ruang seni pertunjukan tertua dan paling kompleks di dunia. Karena sudah memiliki tata kelola seni yang kompleks sebelum adanya galeri, museum, atau manajemen seni modern.

Gagasan itu terbangun dari argumentasi Liang Metanduno sebagai ruang display paling kompleks dan pertama, karena menawarkan berbagai perspektif. Cara melihatnya bisa dari sudut pandang vertikal, horizontal, dari paling bawah, bahkan ada yang harus sambil rebah.

Di periode panjang ribuan tahun, katanya, masyarakat purba sudah memikirkan visual dan ruang display untuk menciptakan karya mereka. Kompleksitas inilah yang dia sebut pemahaman modern secara seni visual.

“Mereka sudah paham bagaimana orang yang masuk ke gua akan melihat lukisan, yang secara spesifik menggambarkan kenyamanan masyarakat.”

Seniman di era itu, katanya, merasa nyaman dan bebas menggambarkan segala sesuatu di sana karena tidak ada ancaman.

“Ibarat studio ternyaman bagi seniman purba. Mereka sudah mencakup pemikiran tentang posisi lukisan agar fokus pada karya masterpiece.

Menurut dia, temuan lukisan cadas di tempat lain banyak tersebar di celah-celah karst yang sempit. Umumnya menceritakan ihwal perburuan, mengindikasikan wilayah itu sebagai tempat perlindungan mereka.

Dia juga mengidentifikasi satu persatu katalog lukisan cadas, yang tidak spesifik menggambarkan jenis tanaman di masa itu. Dia berasumsi manusia di masa itu masih bersifat pemburu dan mengumpulkan umbi-umbian.

“Mereka masih berburu, dan ini dihubungkan dengan kelaki-lakian. Sementara itu, perspektif pangan yang melibatkan tanam-menanam dihubungkan dengan perempuan atau feminisme.”

Wa Ode Sifatu, Antropolog Universitas Halu Oleo, mengatakan petani perempuan menghendaki adanya lembaga keluarga. Peran ini lah yang masih berlangsung hingga kini, yang tidak terlihat dalam lukisan cadas.

Sementara hal-hal lain yang maskulin perlahan ditinggalkan. Misal, perburuan menggunakan tombak, karena sudah tidak berguna, tergantikan dengan temuan senjata api.

Menurut dia, layang-layang–yang lukisannya terdapat di cadas–, merupakan warisan teknologi yang masyarakat lokal warisi turun-temurun. Legenda dan ingatan masyarakat Muna menyebut layang-layang awalnya untuk menyampaikan rasa syukur pada Tuhan.

Masyarakat, katanya, percaya ada kekuatan yang lebih berkuasa mengatur kehidupan, dan Tuhan mereka yakini berada di luar angkasa yang tidak terjangkau manusia. Di masa itu, mereka menerbangkan layang-layang sebagai tanda layang-layang mereka bertemu Tuhan.

“Ini menunjukan peran spiritual dan kosmologis layang-layang.”

Sebelum masyarakat Muna memeluk agama Islam, mereka gunakan layang-layang dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi. Calon pemimpin akan diukur tinggi badannya dan rentangan tangannya untuk menentukan ukuran tiang dan lebar sayap layang-layang mereka.

Panitia, yang terdiri dari orang-orang yang pandai membuat layang-layang, akan menerbangkannya selama tujuh hari, dengan setiap layangan mewakili calon pemimpin tersebut.

Setiap layang-layang pun memiliki bentangan menyerupai busur panah yang terbuat dari daun lontar atau rotan untuk mengeluarkan bunyi khas. Calon yang layang-layangnya bertahan paling lama di udara (bahkan bisa lebih dari tujuh hari, jika ada lebih dari satu yang bertahan) akan terpilih sebagai pemimpin. Ini menunjukkan peran politik dan sosial layang-layang.

Meskipun budaya selalu berubah dan teknologi yang tidak berguna akan tanggal, namun tidak pada layang-layang purba Kaghati KolopeMenurutnya, layang-layang bukan hanya sekedar artefak budaya, tetapi juga teknologi yang efektif dan dihargai.

Sifatu menjelaskan, layang-layang Muna menggunakan serat daun nanas sebagai benangnya, yang merupakan warisan teknologi purba yang masih terjaga hingga sekarang.

Dalam antropologi, katanya, kesenian kerap bukan jadi yang utama dalam unsur kebudayaan universal Karena, orang cenderung berkreasi setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

“Kita tidak mungkin berkesenian dan bisa menikmati seni kalau perut dalam keadaan kosong.” Layang-layang, katanya, juga berfungsi sebagai bentuk kesenian dan rekreasi, terutama saat musim kemarau setelah panen.

Di Muna, layang-layang diwariskan karena perannya yang multifungsi, mulai dari ekspresi spiritual, alat politik teknologi yang efektif, hingga bentuk kesenian dan rekreasi.

Dugaannya, bentangan karst di kawasan Metanduno merupakan perkampungan nenek moyang yang tertata, dengan area untuk religi, permainan, berburu, dan bertani.

Namun, perubahan lingkungan kuat dugaan menjadi penyebab masyarakat di masa itu yang awalnya tinggal di pesisir pantai—daerah yang banyak nyamuk dan rawa-rawa, menjadi bermigrasi.

Tradisi lisan setempat, katanya, menceritakan itu.

“Karena sering diserang penyakit malaria, Raja Muna La Ode Husaini di abad 18, memutuskan untuk mencari tempat yang lebih kering dan tidak ada rawa-rawa, sehingga mereka berpindah.”

Rumah kebun warga di tengah hamparan perbukitan karts, lokasi sebaran gambar cadas berumur ribuan tahun di Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Foto: Intan Amelia Hendra.


Sumber: mongabay.co.id



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com