Mengurai Benang Kusut Prahara Batu Hitam: Mampukah PT SAS Menjadi Solusi di Tengah “Misteri” TUKS Talang Duku?
Industri pertambangan batu bara di Provinsi Jambi kembali berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, komoditas yang dijuluki “emas hitam” ini merupakan tulang punggung ekonomi daerah. Namun di sisi lain, ia menyimpan bara konflik yang tak kunjung padam. Prahara terbaru kini mengerucut pada satu titik panas: Perseteruan antara rencana operasional PT Sinar Anugerah Sukses (SAS) di kawasan Aur Duri dengan eksistensi Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) di Pelabuhan Talang Duku yang selama ini menjadi penguasa jalur logistik.
Jurnalis Jambi, Moch Idris, membedah secara mendalam dinamika ini pada Minggu (8/2/2026), mencoba melihat apakah kehadiran PT SAS adalah sebuah ancaman atau justru oase bagi karut-marut tata kelola batu bara yang selama ini menghantui masyarakat.
Jejak langkah PT Sinar Anugerah Sukses (SAS) di Jambi bukanlah sebuah perjalanan instan. Perusahaan ini membawa narasi besar tentang konsistensi investasi. Sejak awal pendiriannya, manajemen PT SAS menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang terintegrasi untuk menjawab jeritan masyarakat akan kemacetan dan kecelakaan akibat truk batu bara yang menggunakan jalan umum.
Sejarah mencatat bahwa PT SAS datang dengan visi membangun pelabuhan modern dan jalur khusus. Mereka ingin menunjukkan bahwa industri ekstraktif bisa berjalan beriringan dengan ketertiban daerah. Konsistensi ini terlihat dari kegigihan perusahaan dalam menempuh jalur perizinan yang panjang, meskipun seringkali terjebak dalam pusaran sentimen sosial di wilayah Aur Duri.
Manajemen PT SAS berulang kali menegaskan bahwa mereka hadir bukan untuk mengeksploitasi semata, melainkan memajukan ekonomi Jambi melalui standarisasi logistik yang lebih manusiawi. Namun, visi ini kini terbentur pada tembok besar bernama resistensi yang diduga tidak hanya datang dari aspirasi murni masyarakat, tetapi juga dari gesekan kepentingan bisnis di sektor yang sama.
Selama puluhan tahun, TUKS di Pelabuhan Talang Duku menjadi satu-satunya tumpuan harapan bagi pengapalan batu bara Jambi. Namun, operasional pelabuhan ini kini menyisakan tanda tanya besar dan “misteri” yang seringkali berujung maut dan luput dari para pemerhati lingkungan.
Seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk pengangkut batu bara menuju TUKS Talang Duku bukan lagi sekadar angka statistik. Ini adalah kegagalan sistem. Kendaraan-kendaraan raksasa dipaksa melintasi jalanan sempit yang berdampingan langsung dengan kendaraan pribadi dan motor warga. Akibatnya, nyawa menjadi taruhan harian.
Kritik tajam mengarah pada standar operasional TUKS di Talang Duku yang dianggap sudah usang dan tidak mampu lagi menampung lonjakan volume produksi. Debu hitam yang mengepung pemukiman warga di sekitar pelabuhan menunjukkan bahwa mitigasi lingkungan belum menjadi prioritas utama. Di sinilah letak anomali: Mengapa sistem yang jelas-jelas bermasalah dan belum memenuhi standar ini dibiarkan terus beroperasi tanpa ada tantangan yang berarti, sementara inovasi baru dari PT SAS justru dijegal habis-habisan?
Dalam dunia jurnalistik, kita harus berani melihat apa yang tersirat di balik yang tersurat. Prahara di Aur Duri yang menghambat PT SAS seringkali dicitrakan sebagai murni penolakan warga. Namun, jika kita menggali lebih dalam, aroma persaingan bisnis antar pengusaha “batu hitam” tercium cukup menyengat.
Masuknya PT SAS dengan konsep pelabuhan yang lebih modern dan efisien tentu mengancam kenyamanan para pemain lama. Jika PT SAS berhasil berdiri dan beroperasi sesuai standar yang diinginkan daerah, maka otomatis standar industri akan naik. Para pemain yang selama ini beroperasi dengan modal “seadanya” dan mengabaikan tata tertib tentu akan merasa terdesak.
Ada indikasi kuat bahwa gejolak yang muncul di permukaan sengaja dipelihara untuk mengamankan dominasi ekonomi pihak tertentu. Pertanyaannya: Sampai kapan pemerintah dan masyarakat akan terjebak dalam permainan ini, sementara solusi transportasi yang lebih aman sudah ada di depan mata?
Kehadiran PT SAS, jika dikelola dengan regulasi yang ketat, sebenarnya membawa angin segar bagi Jambi. Ada beberapa dampak positif yang bisa dirasakan secara langsung diantaranya:
Pengurangan Beban Jalan Raya: Dengan adanya pelabuhan alternatif dan jalur yang lebih tertata, beban kendaraan di jalur menuju Talang Duku akan terbagi, yang secara otomatis menurunkan risiko kecelakaan.
Peningkatan PAD: Transparansi dalam operasional perusahaan baru yang dipantau ketat akan memberikan kontribusi pendapatan daerah yang lebih maksimal dibandingkan sistem lama yang sulit diawasi.
Modernisasi Logistik: PT SAS bisa menjadi benchmark atau tolok ukur bagi perusahaan lain tentang bagaimana seharusnya mengelola transportasi batu bara yang ramah lingkungan dan aman bagi publik.
Agar PT SAS dapat berdiri tanpa meninggalkan luka sosial, pemerintah daerah harus mengambil langkah tegas dan tidak memihak. Solusi yang ditawarkan meliputi audit menyeluruh, dimana pemerintah harus melakukan audit standar operasional prosedur (SOP) terhadap seluruh pelabuhan batu bara, termasuk Talang Duku, selanjutnya standar yang dibebankan kepada PT SAS juga harus diberlakukan secara adil kepada pemain lama, melakukan mediasi Transparan, Membuka ruang dialog yang jujur antara PT SAS, masyarakat Aur Duri, dan para pemangku kepentingan, selanjutnya masyarakat perlu mendapatkan jaminan hitam di atas putih mengenai kompensasi lingkungan dan penyerapan tenaga kerja lokal dan membentuk ketegasan regulasi yang artinya pemerintah tidak boleh tunduk pada tekanan kelompok pembisnis tertentu. Aturan harus ditegakkan demi kepentingan publik yang lebih besar, yakni keamanan jalan raya dan kelancaran ekonomi.
Pada kesimpulannya, polemik antara PT SAS dan Pelabuhan Talang Duku bukan sekadar masalah izin mendirikan bangunan atau pelabuhan, melainkan masalah kemauan politik (political will) untuk membenahi Jambi. Jika kita ingin mengakhiri “misteri” maut di jalanan, maka diversifikasi pelabuhan dan peningkatan standar adalah keharusan.
PT SAS memiliki peluang besar untuk membuktikan konsistensinya. Namun, mereka juga harus membuktikan bahwa kehadiran mereka benar-benar untuk rakyat Jambi, bukan sekadar memindahkan masalah dari satu titik ke titik lainnya. Jangan biarkan “emas hitam” ini terus memakan korban hanya karena ego para pembisnis yang takut kehilangan kendali. (*/)
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
