Antara Kecaman dan Pujian, Sikap Dunia Terbelah gara-gara Perang Iran
BICARA INTERNASIONAL - Ketegangan geopolitik antara poros Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran mencapai titik didih. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan pada Sabtu (28/2/2026). Insiden ini menandai eskalasi dramatis dari perang proksi menjadi konfrontasi langsung yang mengguncang pasar energi dan stabilitas global.
Kematian Khamenei memicu polarisasi tajam di panggung internasional. Berikut adalah rangkuman reaksi para pemimpin dunia:
Kecaman Keras dari Rusia, China, dan Hamas
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menjadi salah satu sosok yang paling vokal mengutuk insiden ini. Putin menyebut pembunuhan tersebut sebagai "pembunuhan sinis" yang mengangkangi norma moral serta hukum internasional.
Dalam pesan belasungkawanya kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, Putin mengenang Khamenei sebagai sosok outstanding statesman. "Beliau akan dikenang sebagai negarawan ulung yang telah memberikan kontribusi pribadi yang sangat besar bagi pengembangan hubungan persahabatan Rusia-Iran," tegas Putin.
Senada dengan Rusia, Beijing melalui Kementerian Luar Negeri China menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Iran. "Tindakan pembunuhan itu menginjak-injak tujuan dan prinsip Piagam PBB," tulis pernyataan resmi China yang dikutip dari Al Jazeera.
Sementara itu, kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menyatakan duka mendalam atas wafatnya pendukung utama perjuangan mereka. "Beliau memberikan segala bentuk dukungan politik, diplomatik, dan militer kepada rakyat kami," ujar perwakilan Hamas.
Mereka juga menegaskan bahwa AS dan Israel memikul tanggung jawab penuh atas "kejahatan keji" tersebut.
Friksi di Eropa: Spanyol vs Prancis
Di Eropa, suara tidak seragam. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez, melalui media sosial X, menyebut tindakan sepihak AS-Israel sebagai kesalahan serius yang memperburuk tatanan internasional.
"Kami menolak tindakan militer sepihak yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel, yang merupakan eskalasi dan berkontribusi pada tatanan internasional yang lebih tidak pasti dan bermusuhan," tulis Sánchez.
Berbanding terbalik, Prancis melalui juru bicara pemerintah, Maud Bregeon, menyatakan rasa "puas" atas tewasnya Khamenei. Bregeon melabeli Khamenei sebagai "diktator haus darah" yang bertanggung jawab atas penindasan di negaranya. "Oleh karena itu, kita hanya bisa merasa puas dengan kematiannya," ucap Bregeon kepada stasiun televisi RTL.
Respons Negara-Negara Arab dan Muslim
Negara-negara di kawasan Teluk cenderung bersikap hati-hati guna menjaga stabilitas ekonomi. Arab Saudi dan Qatar menekankan pentingnya "menahan diri secara maksimal" demi menghindari perang terbuka yang dapat mengganggu pasokan energi di Selat Hormuz.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, memperingatkan bahwa pembunuhan pemimpin tertinggi melalui operasi lintas batas adalah perkembangan yang "sangat berbahaya" dan berisiko menyeret negara-negara tetangga seperti Lebanon dan Irak ke dalam spiral kekerasan.
Sikap Tegas AS dan Israel
Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump secara terbuka mendukung operasi tersebut. Melalui platform medianya, Trump menyebut Khamenei sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah" dan memperingatkan Iran untuk tidak melakukan aksi balasan.
Pejabat Israel merayakan keberhasilan operasi ini sebagai langkah krusial bagi keamanan nasional mereka. Inggris dan Australia juga menunjukkan sikap keras dengan menyatakan bahwa tidak banyak pihak yang akan berduka atas kepergian pemimpin rezim Teheran tersebut.
Kematian Ali Khamenei kini bukan sekadar kehilangan figur pemimpin bagi Iran, melainkan sebuah katalis yang memaksa dunia untuk mendefinisikan ulang dinamika keamanan global di masa depan.
Sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
