Di Balik Serangan Balasan, Seberapa Kuat Militer Iran?
BICARA INTERNASIONAL - Militer Iran kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Serangan itu langsung memicu perhatian dan kekhawatiran global tentang daya tahan Teheran dalam menghadapi tekanan militer besar. Selama puluhan tahun berada di bawah sanksi internasional, Iran kini harus berhadapan dengan dua kekuatan militer terbesar dunia sekaligus dalam satu eskalasi terbuka. Jawaban Iran datang cepat dan keras.
Dalam satu hari saja, Iran membalas dengan menembakkan 137 misil dan 209 drone ke Kawasan Teluk. Serangan tersebut menghantam bandara Dubai, memicu alarm keamanan di Abu Dhabi, dan bahkan menjangkau wilayah Israel.
Hal itu bukan sekadar unjuk kekuatan simbolis, melainkan demonstrasi nyata dari mesin perang asimetris yang dibangun Iran selama bertahun-tahun di bawah tekanan embargo.
Strategi pertahanan Iran tidak dirancang untuk memenangkan perang konvensional secara cepat, tetapi untuk memastikan setiap pihak yang menyerangnya akan membayar harga sangat mahal.
Peringkat Militer Iran di Dunia
Menurut Global Firepower Index 2026, Iran menempati peringkat ke-16 dari 145 negara dalam hal kekuatan militer global. Posisi ini mencerminkan kombinasi jumlah personel besar, kekuatan darat yang masif, serta kemampuan perang asimetris yang terus berkembang.
Laporan Military Balance 2025 dari International Institute for Strategic Studies (IISS) memperkirakan Iran memiliki sekitar 610.000 personel aktif, dengan perincian:
- 350.000 tentara Angkatan Darat reguler (Artesh).
- 190.000 personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
- 7.000 personel Angkatan Udara.
- 18.000 personel Angkatan Laut.
- 15.000 personel satuan pertahanan udara.
- 40.000 anggota korps gendarmerie dan paramiliter.
Selain itu, Iran memiliki sekitar 350.000 personel cadangan. Sebagai perbandingan, Israel memiliki sekitar 170.000 personel aktif dan 450.000 cadangan. Dalam hal jumlah personel yang dapat dikerahkan, Iran memiliki keunggulan signifikan.
Kekuatan Darat dan Alutsista
Angkatan darat Iran memiliki lebih dari 1.500 tank tempur utama, termasuk T-72 buatan Rusia, tank produksi dalam negeri Zulfiqar, dan sejumlah model lama buatan Amerika Serikat. Kekuatan ini didukung oleh ratusan kendaraan tempur infanteri dan hampir 7.000 sistem artileri.
Namun, sebagian besar alutsista tersebut berusia puluhan tahun. Artinya, kekuatan ini lebih cocok untuk perang pertahanan teritorial dan strategi atrisi jangka panjang daripada operasi ofensif cepat bergaya Barat.
Arsenal Misil Terbesar di Timur Tengah
Jika ada satu elemen yang benar-benar menjadi tulang punggung militer Iran, itu adalah misil. Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), Iran memiliki arsenal misil terbesar dan paling beragam di Timur Tengah.
Intelijen Amerika Serikat dalam laporan awal 2025 juga menyebutnya sebagai stockpile sistem misil terbesar di kawasan tersebut. Arsenal tersebut mencakup:
- Shahab-3, misil balistik dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer dan mampu membawa hulu ledak cluster.
- Sejjil-2, misil balistik jarak menengah dengan jangkauan serupa, pertama kali digunakan dalam perang Juni 2025 melawan Israel.
- Fattah, misil hipersonik dengan jangkauan 1.400 kilometer.
Iran secara resmi membatasi jangkauan misil yang diakui di angka 2.000 kilometer. Jarak ini cukup untuk menjangkau seluruh wilayah Israel dan seluruh pangkalan militer AS di Kawasan Teluk.
Dalam perang 12 hari pada Juni 2025, Iran diperkirakan menembakkan sekitar 550 misil balistik dan 1.000 drone ke arah Israel. Skala ini menunjukkan kapasitas produksi dan kemampuan operasional yang besar, bukan sekadar kemampuan teoretis.
Drone Jadi Senjata Murah, Efektif, dan Mematikan
Jika misil adalah otot, maka drone adalah kecerdikan taktis Iran. Selama bertahun-tahun, Iran berinvestasi besar dalam pengembangan UAV (kendaraan udara tak berawak), terutama seri Shahed dan Mohajer.
Salah satu yang paling dikenal adalah Shahed-136, drone loitering munition atau drone kamikaze yang dijuluki moped dari neraka oleh pasukan Ukraina. Drone ini lambat dan murah, tetapi dapat diluncurkan dalam jumlah besar untuk membanjiri sistem pertahanan udara lawan.
Strateginya sederhana, yakni kirim dalam gelombang besar, paksa sistem pertahanan musuh kewalahan, serta pertahankan tekanan terhadap pelabuhan, bandara, dan kilang minyak.
Dalam serangan 28 Februari 2026, Iran meluncurkan 209 drone sekaligus. Meski sebagian besar berhasil dicegat, beberapa tetap mencapai target dan menyebabkan kerusakan di Kawasan Teluk.
Selain itu, Iran telah menjadi eksportir drone sejak 2000-an, termasuk memasok drone ke Rusia yang digunakan dalam perang di Ukraina.
Jaringan Proksi Jadi Senjata Strategis Iran Lainnya
Kekuatan militer Iran tidak hanya terletak pada senjata konvensional. Salah satu aset paling penting adalah jaringan kelompok proksi regional yang luas.
Pasukan Quds dari IRGC, yang sejak 2020 dipimpin Brigadir Jenderal Esmail Qaani setelah terbunuhnya Qassem Soleimani oleh AS, mengoordinasikan jaringan milisi dan kelompok bersenjata di sedikitnya tujuh negara.
Jaringan tersebut mencakup:
- Hizbullah di Lebanon dengan estimasi 30.000–50.000 pejuang dan lebih dari 150.000 roket serta misil.
- Houthi (Ansar Allah) di Yaman, yang menunjukkan kemampuan misil antikapal dan drone dalam mengganggu pelayaran Laut Merah.
- Hashd al-Shaabi di Irak dengan lebih dari 100.000 pejuang.
- Kelompok-kelompok bersenjata di Suriah, Afghanistan, dan Pakistan.
Jaringan ini memungkinkan Iran memproyeksikan kekuatan tanpa harus selalu terlibat langsung dalam konflik terbuka.
Ujian Nyata di Medan Perang
Dalam Perang 12 Hari Juni 2025, beberapa misil Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara iron dome milik Israel. Pada Sabtu (28/2/2026), sejumlah misil dan drone kembali berhasil mencapai target di Kawasan Teluk meski menghadapi sistem pertahanan berlapis dari AS dan sekutunya.
Semua ini menunjukkan militer yang dibangun di bawah tekanan sanksi selama puluhan tahun telah bertransformasi menjadi kekuatan asimetris yang efektif.
Militer Iran bukanlah kekuatan yang dapat diabaikan. Dengan kombinasi personel besar, arsenal misil paling luas di kawasan, teknologi drone murah tetapi efektif, serta jaringan proksi regional yang solid, Iran memiliki kemampuan untuk menimbulkan kerugian signifikan bagi lawan yang jauh lebih kuat secara konvensional.
Sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
