15 Kapal Perang AS Kepung Selat Hormuz, Iran Bisa Apa?
BICARA INTERNASIONAL - Amerika Serikat mengerahkan sekitar 15 kapal perang ke Timur Tengah seiring diberlakukannya blokade di Selat Hormuz oleh Presiden Donald Trump. Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan kawasan.
Laporan CNN pada Senin (13/4/2026), mengutip pejabat AS, menyebut armada tersebut mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln, kapal serbu amfibi USS Tripoli, serta sejumlah kapal perusak.
Selain itu, terdapat kapal pendaratan USS Rushmore, kapal transportasi USS New Orleans, dan 11 kapal perusak kelas Arleigh Burke yang ikut dikerahkan.
Lokasi pasti kapal-kapal tersebut belum diungkapkan. Begitu pula dengan detail pasukan yang akan terlibat langsung dalam operasi blokade Selat Hormuz. Sementara itu, kapal induk USS Gerald R Ford bersama kapal pengawal lainnya dilaporkan masih berada di Mediterania timur.
Untuk mencapai wilayah operasi, armada tersebut harus melintasi Terusan Suez atau mengitari Afrika.
Pejabat AS juga mengungkapkan kelompok kapal induk USS George HW Bush sedang menuju Timur Tengah melalui rute selatan Afrika.
Rute ini dinilai tidak biasa dan diduga untuk menghindari Laut Merah yang berisiko tinggi akibat ancaman serangan kelompok Houthi.
Kelompok bersenjata di Yaman tersebut sebelumnya telah meluncurkan rudal ke Israel serta mengancam akan memblokade Selat Bab al-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Komando Pusat AS (Centcom) mengumumkan blokade di Teluk Oman dan Laut Arab, wilayah timur Selat Hormuz, mulai Senin 13 April 2026.
Blokade ini menargetkan kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. “Kapal mana pun yang memasuki atau meninggalkan area blokade tanpa izin dapat dicegat, dialihkan, dan disita,” demikian pernyataan resmi.
Namun, bantuan kemanusiaan seperti makanan dan obat-obatan tetap diizinkan melintas dengan pemeriksaan.
Di tengah eskalasi ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan komunikasi dengan Arab Saudi dan Qatar. Ia menilai langkah AS berpotensi meningkatkan risiko konflik kawasan.
Araghchi juga menegaskan Iran telah menunjukkan itikad baik dengan menerima gencatan senjata, tetapi menilai sikap AS dalam negosiasi terlalu menuntut.
sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
