Solusi Cerdas di Tengah Krisis: Mursyid Y. Sonsang Bedah Makna Strategis Majelis Bahagia Bersholawat
BICARA PENDIDIKAN - Peluncuran program Majelis Bahagia Bersholawat oleh Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M, memicu respons positif dari berbagai kalangan. Salah satu tanggapan strategis datang dari Direktur Media Center Pemenangan Maulana-Diza, Mursyid Y. Sonsang. Tokoh pers senior ini menilai bahwa gerakan membumikan shalawat yang digagas Pemerintah Kota Jambi merupakan langkah visioner yang relevan dengan kondisi dunia yang sedang penuh tekanan.
Meskipun tidak hadir langsung di lokasi pelantikan pada Rabu pagi (08/04/2026), Mursyid memberikan pandangan mendalam mengenai urgensi program tersebut. Menurutnya, program Shalawat Bahagia ini bukan sekadar aktivitas religius rutin, melainkan instrumen penting dalam menjaga stabilitas kebatinan masyarakat di tengah badai krisis global.
Mursyid mengajak masyarakat untuk kembali menengok sejarah dan menyadari posisi Indonesia khususnya Kota Jambi di tengah karut-marut geopolitik internasional. Ia menyoroti ketegangan yang kian memanas antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak langsung pada kelumpuhan ekonomi di berbagai belahan dunia.
"Kita harus melihat ini dalam perspektif yang lebih luas. Saat ini, geopolitik dunia sedang membara. Dampak peperangan dan ketegangan internasional telah memicu inflasi hingga kelumpuhan ekonomi yang nyata. Di tingkat nasional, kita melihat pemerintah sedang gencar menggalakkan efisiensi anggaran. Dalam kondisi serba sulit inilah, program Shalawat Bahagia menjadi oase yang menyejukkan," ujar Mursyid dalam keterangannya.
Ia menambahkan, ketika logika ekonomi sedang diuji oleh keadaan dunia yang tidak menentu, maka pendekatan kepada Sang Pencipta, Allah SWT, adalah jalan keluar yang harus ditempuh secara kolektif. "Ini adalah momen bagi kita semua untuk selalu mengingat Allah SWT melalui lantunan shalawat," tambahnya.
Lebih jauh, Mursyid menekankan bahwa kebijakan efisiensi yang sedang diambil pemerintah seringkali membawa dampak sosial di tengah masyarakat. Dengan hadirnya Majelis Bahagia Bersholawat hingga ke tingkat kelurahan, masyarakat diajak untuk tetap optimis dan tidak kehilangan arah.
"Program ini harus kita jalankan sebagai bagian dari gaya hidup bernegara dan bermasyarakat. Shalawat adalah energi positif. Di saat kita harus melakukan efisiensi dalam banyak hal, kita tidak boleh melakukan efisiensi dalam beribadah dan berdoa. Justru di masa-masa sulit seperti inilah, frekuensi mengingat Tuhan harus ditingkatkan agar keberkahan tetap turun ke Bumi Tanah Pilih Pusako Betuah," jelas Mursyid dengan narasi yang menggugah.
Ia memuji keberanian Wali Kota Maulana yang menempatkan aspek spiritual sebagai pilar utama visi "Kota Jambi Bahagia". Menurutnya, kebahagiaan sejati warga kota tidak akan tercapai hanya dengan pembangunan infrastruktur fisik jika jiwa masyarakatnya gersang dari nilai-nilai ketuhanan.
Mursyid meyakini bahwa sinergi antara kebijakan pemerintah dan gerakan spiritual masyarakat akan melahirkan ketahanan sosial yang kuat. Dengan rutin bershalawat, masyarakat akan memiliki mentalitas yang lebih tangguh dalam menghadapi setiap dinamika perubahan zaman.
"Visi Maulana-Diza melalui Majelis Bahagia Bersholawat ini adalah sebuah 'Investasi Akhirat' sekaligus solusi duniawi. Kita ingin menciptakan suasana kota yang damai. Jika setiap penjuru kota bergetar dengan suara shalawat, maka energi negatif akan tereduksi, persaudaraan akan menguat, dan masyarakat akan lebih sabar serta cerdas dalam menyikapi situasi ekonomi yang berat," pungkasnya.
Tanggapan dari Direktur Media Center ini mempertegas bahwa peluncuran Majelis Bahagia Bersholawat bukan hanya menjadi agenda Bagian Kesra semata, melainkan merupakan strategi besar dalam membangun ketahanan mental warga Kota Jambi di tengah ketidakpastian global yang terjadi pada tahun 2026 ini. (*/)
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
