Transformasi Sampah Jadi Energi: Menteri LH Dorong Percepatan Proyek PSEL di TPA Talang Gulo Jambi
BICARA LINGKUNGAN - Pemerintah Kota Jambi bersiap mengambil langkah revolusioner dalam pengelolaan lingkungan hidup. Proyek ambisius pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) kini memasuki babak baru. Hal ini ditegaskan saat Menteri Lingkungan Hidup (LH) Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., meninjau langsung lokasi rencana proyek tersebut di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Talang Gulo, Kelurahan Kenali Asam Bawah, Kecamatan Kotabaru, Sabtu (11/04/2026).
Dalam kunjungan kerja tersebut, Menteri LH didampingi langsung oleh Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., dan Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M. Kehadiran pucuk pimpinan kementerian ini menjadi sinyal kuat bahwa Jambi merupakan prioritas nasional dalam transisi pengelolaan sampah menuju energi terbarukan.
Langkah kaki Menteri Hanif menyusuri infrastruktur di TPA Talang Gulo disambut dengan decak kagum. Setelah meninjau berbagai sudut pengolahan sampah yang ada, ia tak ragu menyematkan predikat TPA Talang Gulo sebagai salah satu yang terbaik di tanah air.
“Saya sudah berkeliling ke banyak TPA di tanah air, namun TPA di Kota Jambi ini adalah salah satu yang paling baik, mulai dari aspek desain hingga operasionalnya,” ujar Hanif penuh apresiasi usai melakukan tinjauan lapangan.
Menurut Hanif, keberhasilan tata kelola hilir di Jambi harus menjadi suntikan energi dan motivasi bagi Pemerintah Kota maupun Pemerintah Provinsi Jambi. Ia menilai, ketika banyak kota di Indonesia terhambat pada masalah ketersediaan lahan TPA, Jambi justru telah selangkah lebih maju dengan infrastruktur yang mumpuni.
Meski memberikan nilai tinggi pada sisi hilir, Menteri LH menitipkan catatan penting terkait pengelolaan di sisi hulu atau sumber sampah. Ia menekankan bahwa keberhasilan PSEL sangat bergantung pada kedisiplinan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
“Kendala di hampir semua kota adalah TPA, namun Jambi mempunyai keunggulan itu. Sekarang, tinggal bagaimana meningkatkan aspek hulunya, yaitu pemilahan sampah dari sumbernya,” tegasnya.
Dengan volume sampah Kota Jambi yang mencapai angka 600 ton per hari, Hanif optimistis permasalahan sampah dapat tuntas secara komprehensif pada tahun 2026. Ia juga mengingatkan bahwa Jambi masuk dalam 33 wilayah aglomerasi yang mendapat instruksi langsung dari Presiden untuk segera melelang proyek PSEL.
“Lahan di sini sangat siap. Jika di wilayah lain masalahnya ada di hilir, di Kota Jambi tantangannya tinggal di hulu. Saya harap ini cepat terselesaikan karena Pemerintah Pusat menargetkan tahun 2026 seluruh praktik open dumping (pembuangan terbuka) wajib diakhiri,” tambahnya.
Merespons arahan Menteri LH, Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., langsung memaparkan strategi taktisnya melalui program unggulan "Kampung Bahagia". Program ini menjadi garda terdepan Pemerintah Kota Jambi dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Kebersihan adalah prioritas utama kami. Melalui Kampung Bahagia, kami mendorong keterlibatan aktif masyarakat di tingkat RT. Kami telah mengalokasikan bantuan 100 juta per RT tahun ini untuk memastikan pengangkutan sampah dilakukan langsung dari rumah ke rumah menggunakan bentor yang dikelola warga,” jelas Maulana.
Maulana menargetkan, penguatan di tingkat RT ini akan menghilangkan ketergantungan masyarakat pada Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang seringkali menjadi titik kumuh. Secara bertahap, Pemerintah Kota akan menutup TPS-TPS di pinggir jalan dan memusatkan seluruh aliran sampah secara terpadu ke TPA Talang Gulo yang kini telah berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Target kami tegas: tidak ada lagi sampah yang dibuang sembarangan, dibakar, apalagi dibuang ke sungai. Jika sistem ini sudah berjalan merata di seluruh RT, kami akan menerapkan sanksi tegas bagi pelanggar sesuai peraturan daerah yang berlaku,” kata Wali Kota dengan nada optimis.
Di sisi lain, Gubernur Jambi Al Haris menyatakan dukungan penuh Pemerintah Provinsi terhadap percepatan proyek Waste-to-Energy ini. Menurutnya, sinergi lintas level pemerintahan menjadi kunci utama keberhasilan proyek strategis nasional ini.
“Alhamdulillah, kunjungan Pak Menteri membawa kabar bahagia. Jambi insya Allah akan memiliki pembangkit energi dari sampah. Kami di tingkat provinsi siap mengawal dan mendukung penuh segala proses percepatan ini agar Jambi menjadi daerah percontohan pengelolaan sampah modern yang berkelanjutan,” tutur Al Haris.
Kunjungan ini diakhiri dengan komitmen bersama bahwa pengelolaan sampah bukan lagi sekadar urusan membuang limbah, melainkan mengubah beban lingkungan menjadi berkah ekonomi melalui teknologi dan kesadaran kolektif.
Jika proyek PSEL ini berjalan sesuai rencana yang memakan waktu pembangunan sekitar tiga tahun, Jambi diprediksi akan menjadi salah satu kota pertama di luar Jawa yang berhasil mengintegrasikan solusi lingkungan dengan kemandirian energi. (*/)
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
