Saturday, April 11, 2026

USAHID Tegaskan Peran Akademisi dalam Membaca Perang Modern: Dari Senjata ke Algoritma dan Konstruksi Kebenaran


BICARA PENDIDIKAN
— Universitas Sahid Jakarta melalui Sekolah Pascasarjana kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan pemikiran kritis di bidang komunikasi global dengan menyelenggarakan diskusi intelektual bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia?” pada Jumat, 10 April 2026. 


Forum ini menghadirkan tiga mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi yang mengulas konflik AS–Israel versus Iran dari perspektif geopolitik, strategi militer, serta komunikasi global berbasis teknologi.


Diskusi ini menjadi bagian dari komitmen akademik USAHID dalam menghadirkan ruang dialog ilmiah yang responsif terhadap dinamika global, sekaligus membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis strategis lintas disiplin di era disrupsi teknologi dan informasi.


“Tugas seorang akademisi adalah hadir di titik paling panas persoalan zaman. Diskusi ini adalah tanggung jawab keilmuan kita sebagai bagian dari masyarakat global.”


— Dr. Prasetya Yoga Santoso, Kaprodi Doktoral Ilmu Komunikasi USAHID Jakarta


Bukan Perang Sporadis—Ini Skenario Lama

Fathurrahman Yahya menegaskan bahwa konflik ini merupakan bagian dari konstruksi geopolitik jangka panjang pasca-Perang Dingin 1991. Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perebutan energi global.


"Ini perang untuk menentukan siapa yang menguasai jantung energi dunia. AS mendukung Israel dan menekan Iran karena kombinasi tiga kepentingan: energi, keamanan, dan geopolitik."  — Fathurrahman Yahya, Analis Timur Tengah, DIK 29


Endgame Iran: Lemah, Tapi Tak Hancur

Didin Nasirudin memproyeksikan bahwa Iran tidak akan runtuh meskipun menghadapi tekanan militer besar, dengan strategi perang asimetris berbasis drone dan jaringan proxy.


"Endgame yang paling mungkin adalah gencatan senjata tanpa pemenang mutlak. Iran melemah, tapi tidak hancur. Selat Hormuz dibuka kembali dengan aturan main baru."  — Didin Nasirudin, Konsultan Komunikasi Global & Pengamat Politik AS, DIK 35


Siapa Kuasai Algoritma, Dia Kuasai Kebenaran

Henry Sianipar menjelaskan bahwa perang modern berlangsung pada level fisik, kognitif, dan epistemologis, di mana algoritma dan AI menjadi penentu persepsi publik global.


“Kita sudah berada di era Perang Permanen Multi-Dimensi. AI adalah pembentuk realitas.” — Henry Sianipar, Eksekutif Produser Liputan 6 SCTV, DIK 33


USAHID sebagai Ruang Produksi Pengetahuan Strategis Ilmu Komunikasi


Program Doktor Ilmu Komunikasi USAHID berperan dalam membentuk akademisi yang memahami komunikasi sebagai arena produksi makna dan kekuasaan. Perang modern adalah konstruksi realitas berbasis teknologi, media, dan algoritma. Literasi media dan kecerdasan komunikasi strategis menjadi kunci dalam menghadapi era ini.


Di era ketika kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh algoritma, siapa yang sesungguhnya mengendalikan realitas? Dalam konteks ini, Universitas Sahid Jakarta memposisikan diri sebagai ruang produksi pengetahuan strategis melalui Program Doktor Ilmu Komunikasi yang membentuk akademisi kritis untuk memahami komunikasi sebagai arena kontestasi makna dan kekuasaan. Perang modern tidak lagi sekadar fisik, melainkan konstruksi realitas berbasis media, teknologi, dan algoritma, sehingga peran akademisi menjadi krusial dalam mengungkap relasi kuasa, membangun literasi media, serta mengembangkan kecerdasan komunikasi strategis sebagai fondasi menghadapi era perang multi-dimensi berbasis AI. ***




Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com