Thursday, May 14, 2026

Ahmad Susantri, New Mentor Jambi Cultural Festival 2026


BICARA PANGGUNG
- Jambi Cultural Festival (JCF) 2026 diselenggarkan oleh Yayasan Arus Budaya, pada 16 s.d 18 Juli 2026 di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi.


Kegiatan yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jambi melalui UPTD Taman Budaya Jambi ini, untuk tahun 2026 meluaskan jangkauannya se-Indonesia yang akan diikuti 6 Koreografer. Sebelumnya JCF 2025 berasal dari 4 provinsi di pulau Sumatera, JCF 2024 asal Jambi 4 koreografer.


Keenam koreografer yang terpilih adalah:
1. Tri putra Mahardhika, asal Jambi 
2. ⁠Muhammad Fahrul, asal Kalimantan Barat 
3. Fachri matlawa, asal Papua 
4. ⁠Shafira emeralda, asal Bangka belitung 
5. ⁠I Putu Oka Surya Pratama, asal Bali 
6. ⁠Ahmad Ghozali, asal Mentawai-Sumatera Barat


"Dengan penuh bangga kami persembahkan mentor baru pada JCF 2026.Sebelumnya, Susan sendiri pernah menapaki jalan sebagai peserta JCF 2025. Kini, ia kembali, mengemban amanat mentoring bagi para koreografer terpilih," Tulis penyelenggara di akun resmi Instagram (Kamis, 14/05/2026).


Bukanlah rahasia lagi Susan adalah seorang seniman yang hidup dalam denyut kesenian. Bermula dari Liwa, kampung halamannya, ia terus bersinergi secara aktif, menebarkan ilmu dan rasa yang tumbuh dari akar yang ia cintai.


Di JCF 2026, Susan akan mengemban peran istimewa:

1. Menghadirkan perspektif segar bagi para koreografer terpilih membuka cakrawala baru yang selama ini belum tersentuh, seperti fajar yang tiba tanpa diduga.

2. Meramu koreografi, ide, dan gagasan menjadi satu kesatuan ritmis yang bernyawa. Bukan sekadar gerak, melainkan denyut rasa yang lahir dari ruang olah bersama: tempat ide menari dan hati berbisik.

3. Memberi warna khas pada setiap koreografer terpilih, tanpa pernah menghilangkan jati diri mereka. Susan hadir sebagai pemantik, bukan penguasa. Ia meniupkan ruh estetika, namun tetap membiarkan setiap koreografer bertumbuh menjadi dirinya yang paling autentik ,seperti air yang membentuk lembah, tanpa pernah memaksa bebatuan menjadi lain.


"Adapun tema JCF 2026, kami mengangkat tradisi masyarakat asli setempat "bukan sebagai kenangan, melainkan jawaban" di tegah Krisis sosial yang merenggut gotong royong, tradisi mengajarkan Kembali kebersamaan. Dalam tekanan ekonomi yang meminggirkan yang kecil, kearifan lokal menawarkan ekonomi yang adil dan berakar," Terang Ichalago, Direktur Festival.


"Saat lingkungan terancam oleh eksploitasi, masyarakat asli justru menjaga bumi dengan hormat. Tema ini mengajak kita pulang, bahwa menyelamatkan tradisi sama dengan menyelamatkan manusia, mata pencaharian dan alam. Bukan nostalgia, tetapi Gerakan hidup untuk masa depan yang lebih manusiawi," Tambahnya lagi. (*/)








Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com