Ketika Teater Lain Memotong Naskah, Teater AiR Jambi Justru Memainkan Abdul Muluk Sepenuhnya
BICARA PANGGUNG - Teater AiR Jambi melalui bantuan Dana Indonesiana dari LPDP kembali mengangkat salah satu kebudayaan yang cukup dikenal di Jambi. Sebagian besar masyarakat mungkin sudah tidak asing lagi dengna kisah teater tradisional yang beberapa kali dipentaskan, yaitu Abdul Muluk.
Namun, Teater AiR Jambi mencoba memosisikan diri untu merekonstruksi kembali keberadaan kisah Abdul Muluk di tengah perkembangan modern hari ini. Ketika banyak kelompik teater memilih memotong naskah demi menyesuaikan durasi dan perhatian penonton, Teater AiR Jambi justru bersikeras memaikan Syair Abdul Muluk secara utuh. Sebuah keputusan yang mungkin dianggap nekat di era penonton serna instan seperti sekarang.
Pementasan dan program ini diberi judul besar Re:TAM (Rekonstruksi Teater Abdul Muluk). Program tersebut menjadi yang pertama dan satu-satunya di Jambi, bahkan mungkin di Sumatera, yang mengadaptasi Syair menjadi sebuah pertunjukan utuh tanpa pemotongan cerita.
Namun, jika kita kilas balik ke masa lampau, asal-usul cerita Abdul Muluk berawal dari sebuah syair berjudul Syair Abdul Muluk Karya Raja Ali Haji pada abad ke-19. Sosok Raja Ali Haji sendiri dikenal sebagai ulama, sejarawan, sekalius pujangga besar Kesultanan Riau-Lingga yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan sastra Melayu.
Pada masanya, Syair Abdul Muluk kerap dibawakan oleh para pedagang dan dilantunkan di hadapan khalayak ramai untuk menarik perhatian para pembeli di wilayah semenanju Melayu termasuk Palembang dan Jambi. Namun, seiring berkembangnya cara berpikir dan kebudayaan masyarakat, berkembang pula cara penyampaian cerita tersebut. Yang awalnya hanya berupa lantunan syair perlahan bertransformasi menjadi sebuah pertunjukan yang dapat disaksikan dalam berbagai kesempatan, hingga akhirnya dikenal sebagai teater tradisional Abdul Muluk.
Meski demikian, pertunjukan tersebut tetap tidak dapat dilepaskan dari akar utamanya, yakni tradisi bersyair yang menjadi fondasi lahirnya kisah Abdul Muluk itu sendiri. Dalam perkembangannya, tidak seluruh bagian syair diadaptasi ke dalam pertunjukan teater tradisional. Hanya beberapa bagian tertentu yang dipilih dan disesuaikan untuk kebutuhan pementasan, sehingga bentuk Abdul Muluk yang kita saksikan hari ini merupakan hasil adaptasi dari syair aslinya. Dalam beberapa hal ada pula yang ditambahkan untuk menyesuaikan kebutuhan panggung atau pementasan.
Teater AiR Jambi menghadirkan Re:TAM sebagai bentuk rasa penasaran terhadap akar awal teater Abdul Muluk yang berasal dari tradisi syair, lalu mencoba mengembalikannya kembali ke bentuk asalnya. Melalui program ini, Teater AiR Jambi mencoba untuk tidak mengadaptasi bebas syair yang ada, melainkan berupaya merekonstruksi bait-bait dari syair itu ke dalam pertunjukan yang tidak hanya menjadi adaptasi panggung saja, tetapi juga usaha menghidupkan kembali ruh dari syair aslinya.
Naskah syair yang dimainkan tidak dipotong demi menyesuaikan kebutuhan waktu ataupun durasi pementasan. Bagi Teater AiR Jambi, hal tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap asal-usul Syair Abdul Muluk itu sendiri. Pendekatan ini menjadi pembeda dari banyak pertunjukan lain yang umumnya hanya mengambil fragmen atau bagian tertentu dari cerita.
Karena tidak adanya pemotongan naskah, durasi pementasan kali ini tentu akan berlangsung cukup panjang. Namun, justru di situlah letak keberanian sekaligus komitmen Teater AiR Jambi dalam menghadirkan pengalaman pertunjukan yang lebih utuh. Mereka bahkan berani mengklaim bahwa pementasan ini menjadi yang pertama dan satu-satunya di Jambi, bahkan mungkin di Sumatra, yang mengadaptasi Syair Abdul Muluk secara utuh tanpa pemotongan, setelah adaptasi karya sastra La Galigo.
Durasi pementasan yang panjang tentu menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi penggunaan bahasa syair Melayu yang mungkin tidak mudah dipahami oleh sebagian penonton masa kini. Ada kemungkinan penonton merasa jenuh di beberapa bagian, namun hal tersebut menjadi risiko yang harus dihadapi demi memperkenalkan sekaligus menghidupkan kembali napas kebudayaan yang telah ada sejak lama.
Pada intinya, Re:TAM yang dihadirkan oleh Teater AiR Jambi bukan sekadar nostalgia kosong atau hanya upaya memperkenalkan kembali Abdul Muluk kepada masyarakat Jambi. Lebih dari itu, program ini menjadi pengingat bahwa tradisi tidak selalu harus disederhanakan agar dapat diterima oleh masyarakat modern. Kadang, justru mempertahankan bentuk aslinya merupakan cara paling jujur untuk merawat kebudayaan.
Teater tradisi tidak harus kalah dari hiburan modern; ia hanya perlu ditampilkan dengan jujur dan sungguh-sungguh kepada masyarakat. Melalui Re:TAM, Teater AiR Jambi ingin menunjukkan bahwa di saat banyak warisan budaya hanya tinggal nama dalam arsip, seminar, atau catatan sejarah, mereka memilih untuk menghidupkannya langsung di atas panggung. Sebuah upaya untuk membuktikan bahwa warisan Melayu masih relevan dipertunjukkan kepada masyarakat modern yang perhatian dan konsentrasinya kini mudah teralihkan oleh gawai dan arus hiburan serba cepat.
Produksi Teater AiR Jambi ini terselenggara atas dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, LPDP, UPTD Taman Budaya Jambi, Amerta Production, dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia. (*Edit:HN/teaterAiR_wouwoo.com)
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
