Menjaga Syair, Menghidupkan Sejarah: Rekonstruksi Abdul Muluk oleh Teater AiR Jambi
Oleh: Fadhil Musthafa
Pementasan rekonstruksi Abdul Muluk diadakan pada tanggal 22-23 Mei 2026 yang berlokasi di teater arena taman budaya Jambi. Teater AIR Jambi dapat melakukan pementasan dengan full syair asli tanpa ada yang dipotong. Meskipun pementasan ini berlangsung 2,5 jam tetapi penonton khusyuk menonton sampai selesai. Pementasan ini mengadaptasi naskah asli karya Raja Ali Haji tahun 1847, tapi disajikan ulang lewat teater.
Ceritanya berpusat pada Abdul Muluk, putra Sultan Abdul Hamid Syah dari Kerajaan Barbari, yang sejak muda sudah menikah dengan Siti Rahmah. Setelah ayahnya wafat, Abdul Muluk diangkat menjadi raja muda, tapi ia memilih menyerahkan pemerintahan kepada pamannya, Mansur dan pergi merantau untuk mencari pengalaman dan kematangan diri. Dalam perantauannya ia sampai ke negeri Ban dan menikahi Siti Rafiah, putri sultan setempat.
Saat pulang ke Barbari, kedua istrinya hidup rukun seperti kakak adik, dan Siti Rafiah pun hamil. Keharmonisan keluarga itu tidak berlangsung lama karena Sultan Hindustan menyerang Barbari tanpa peringatan untuk membalas kematian pamannya. Dalam serangan itu istana diserbu, Siti Rahmah dan Abdul Muluk ditawan, sementara Siti Rafiah berhasil meloloskan diri. Konflik utama yang ada pada pementasan, yaitu upaya Siti Rafiah menyelamatkan suaminya.
Di pengasingan ia bertemu seorang syeikh yang menolongnya, lalu memutuskan menyamar sebagai laki-laki untuk menyusup ke wilayah Hindustan. Lewat penyamaran itu ia merancang pembebasan Abdul Muluk dan pada akhirnya berhasil mempertemukan kembali keluarganya. Alur cerita ini mengikuti struktur drama kerajaan yang dipadukan dengan tema penyamaran, sehingga klimaksnya terasa pada keberanian dan kecerdikan Siti Rafiah sebagai tokoh perempuan. Tema yang diangkat dalam pementasan ini masih relevan sampai sekarang. Pertama, soal kepemimpinan dan tanggung jawab. Abdul Muluk digambarkan masih muda dan belum siap memerintah, sehingga ia memilih belajar dari pengalaman merantau. Ini bikin semua orang sadar kalau jadi pemimpin itu bukan hanya soal tahta, tapi soal amanah dan kesiapan diri. Kedua, tema kesetiaan istri sangat kuat lewat karakter Siti Rafiah.
Ia tidak pasrah menjadi korban, melainkan mengambil peran aktif dengan menyamar dan mempertaruhkan nyawa demi suaminya. Selain itu, tokoh Mansur sebagai menteri bijaksana menunjukkan pentingnya harmoni antara adat, agama, dan kekuasaan agar negeri tetap stabil.
Yang paling bikin kagum itu cara sutradaranya menghidupkan pementasan ini. Keputusan sutradara yang tetap menjaga nuansa Melayu klasik lewat dialog dan bahasa membuat pementasan lebih sama dengan syair aslinya. Penataan latar panggungnya juga sangat sesuai, dan bagus sekali. Meskipun Latar tempat seperti istana barbari hanya dibuat dengan background atau lebih tepat nya menggunakan proyektor, tetapi pembawaan tempatnya sangat terlihat jelas karena semua penonton pasti tahu di mana tempat itu terjadi. Pencahayaannya berubah sesuai suasana, dari hangat saat adegan keluarga sampai gelap dan mencekam saat serangan Hindustan terjadi. Kostum para pemain juga detail yang membuat suasana kerajaan terasa nyata. Perkelahian yang disisipkan di adegan pertempuran juga rapi, jadi tidak cuma tegang tapi enak dilihat. Bahasa yang dipakai sepanjang pementasan juga tetap kental nuansa Melayu klasik, halus, sopan, dan penuh perumpamaan. Walaupun bahasanya berat, penyampaian para pemain lewat intonasi dan ekspresi tetap bikin penonton mengerti maksudnya. Tujuannya jelas, bukan sekadar menghibur, tapi mendidik masyarakat tentang moral, adab, dan politik.
Pementasan ini bukan cuma tontonan, tapi juga pelajaran sejarah dan sastra yang dikemas dengan menarik. Secara keseluruhan, pementasan rekonstruksi Abdul Muluk ini berhasil jadi cerminan nilai-nilai kepemimpinan, kesetiaan, dan etika politik. Saya berterima kasih sama sutradara dan seluruh tim yang sudah kerja keras mengangkat cerita lama ini ke panggung dengan cara yang segar. Kekuatan utamanya ada pada tokoh perempuan yang kuat. Untuk tujuan pendidikan dan pertunjukan, saya merasa adaptasi ini berhasil membuat cerita klasik terasa hidup dan relevan sampai sekarang, dan saya pribadi jadi lebih tertarik buat baca naskah aslinya secara langsung. (*/)
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
