Thursday, June 25, 2026

Antara Tradisi dan Perundungan: Dampak Senioritas terhadap Kehidupan Akademik Mahasiswa


Penulis Nasywa Huriyah Laththuf 
(Mahasiswi Sastra Minangkabau Universitas Andalas)


Abstrak

Senioritas adalah fenomena yang masih sering hadir di lingkungan kampus. Pada dasarnya, senioritas dapat berfungsi sebagai alat pembinaan dan pemindahan pengalaman dari mahasiswa senior kepada mahasiswa yang baru. Akan tetapi, dalam implementasinya, budaya senioritas sering kali berubah menjadi tindakan perundungan yang dilakukan atas dasar tradisi kampus. Fenomena ini dapat berpengaruh buruk terhadap keadaan psikologis, sosial, dan akademik mahasiswa. Tulisan ini berfokus pada analisis pengaruh senioritas terhadap aspek akademis mahasiswa serta signifikansi menciptakan budaya kampus yang positif dan terbuka. Pendekatan yang diambil adalah penelitian pustaka dengan memanfaatkan beragam sumber akademis yang berhubungan dengan budaya kampus, senioritas, dan perundungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa senioritas yang negatif dapat menurunkan semangat belajar, mengganggu kesehatan mental, menghalangi pengembangan potensi mahasiswa, serta menciptakan suasana akademik yang kurang mendukung. Dengan demikian, diperlukan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan pihak universitas untuk membangun hubungan yang saling menghargai dan mendukung proses belajar.


Perguruan tinggi adalah institusi pendidikan yang memiliki peranan krusial dalam menciptakan sumber daya manusia berkualitas. Selain berfungsi sebagai wadah untuk mendapatkan pengetahuan, kampus juga berperan sebagai arena bagi mahasiswa dalam mengasah keterampilan sosial, kepemimpinan, dan pembentukan karakter. Dengan demikian, suasana kampus seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mendukung pertumbuhan semua mahasiswa.


Dalam kehidupan universitas, ada berbagai budaya yang muncul di antara mahasiswa. Salah satu tradisi yang terkenal adalah tradisi senioritas. Senioritas terjadi akibat adanya perbedaan tingkat antara mahasiswa senior dengan mahasiswa yang baru. Dalam perspektif yang positif, senioritas dapat memberikan keuntungan karena mahasiswa senior memiliki pengalaman yang dapat dibagikan kepada mahasiswa baru untuk membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan kampus.


Mahasiswa tingkat akhir sering kali menjadi rujukan informasi tentang sistem perkuliahan, organisasi mahasiswa, serta berbagai aktivitas akademik yang dapat mendukung kemajuan mahasiswa baru. Hubungan yang erat antara senior dan junior dapat menghasilkan atmosfer kekeluargaan yang menguatkan solidaritas dalam lingkungan kampus.


Akan tetapi, dalam praktiknya, budaya senioritas tidak selalu berfungsi secara baik. Dalam beberapa situasi, senioritas bertransformasi menjadi perilaku yang menyebabkan perundungan atau penindasan. Mahasiswa baru kerap kali mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan seperti intimidasi, penghinaan, pemaksaan, bahkan diskriminasi yang dilakukan atas nama tradisi atau pembentukan karakter. Kegiatan seperti ini bisa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan mahasiswa, khususnya dalam hal akademik dan mental.


Senioritas sesungguhnya tidak sepenuhnya merupakan hal yang buruk. Dalam berbagai organisasi mahasiswa, kehadiran senior sangat penting sebagai mentor bagi anggota yang lebih muda. Senior bisa membantu mahasiswa baru mengenali budaya akademik, prosedur organisasi, serta memberikan dorongan untuk berkembang.


Permasalahan timbul saat hubungan tersebut bertransformasi menjadi relasi kekuasaan yang tidak seimbang. Sejumlah mahasiswa senior berpendapat bahwa mereka berhak memberikan perlakuan istimewa kepada mahasiswa baru hanya berdasarkan perbedaan angkatan. Akibatnya, terjadi perilaku yang melecehkan martabat mahasiswa baru dan menimbulkan ketimpangan dalam interaksi sosial.


Perundungan yang berlangsung di area kampus bisa berupa verbal maupun nonverbal. Bentuk verbal mencakup sindiran, cemoohan, teriakan, dan intimidasi. Sementara itu, perilaku nonverbal dapat berupa pengucilan sosial, penugasan berlebihan, atau perlakuan tidak adil yang membuat mahasiswa baru merasa tidak nyaman. Walaupun sering dipandang sebagai bagian dari tradisi, tindakan itu tetap merupakan perilaku yang merugikan dan tidak sejalan dengan nilai-nilai pendidikan.


Salah satu efek paling jelas dari senioritas yang berlebihan adalah berkurangnya motivasi belajar mahasiswa. Mahasiswa yang mendapatkan tekanan dari senior sering kali merasa tidak betah di lingkungan kampus. Rasa takut dan cemas bisa memengaruhi konsentrasi mereka dalam mengikuti kelas sehingga proses belajar menjadi tidak maksimal.


Selain itu, bullying yang dilakukan oleh senior juga dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Korban bullying sering kali menghadapi stres, ketakutan, dan hilangnya kepercayaan diri. Situasi ini dapat memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik dan berpartisipasi dalam aktivitas kampus. Dalam beberapa situasi, tekanan yang berkelanjutan dapat membuat mahasiswa kehilangan motivasi untuk melanjutkan studi.


Budaya senioritas yang merugikan juga membentuk lingkungan akademik yang kurang mendukung. Kampus yang seharusnya menjadi lokasi untuk berbagi ide dan mengembangkan pengetahuan malah berubah menjadi tempat yang dipenuhi tekanan. Mahasiswa baru mungkin merasa cemas untuk mengungkapkan pendapat atau bertanya pada senior karena takut menerima perlakuan yang tidak menyenangkan. Sebagai akibatnya, interaksi akademis terhambat dan proses belajar tidak berlangsung secara optimal.


Konsekuensi lain adalah terhalangnya pengembangan bakat mahasiswa. Banyak mahasiswa memilih untuk menjauh dari organisasi atau kegiatan kampus karena pengalaman negatif yang mereka rasakan akibat senioritas. Sebenarnya, aktivitas tersebut adalah alat krusial untuk mengasah kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan kolaborasi. Saat mahasiswa tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang, kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan juga bisa merosot.


Untuk mengurangi dampak buruk senioritas, diperlukan kerja sama dari seluruh komunitas akademik. Mahasiswa senior harus menyadari bahwa tugas mereka adalah sebagai pendamping, bukan sebagai pihak yang menguasai mahasiswa baru. Pengalaman yang ada seharusnya dimanfaatkan untuk membantu, membimbing, dan mendukung kemajuan junior.


Pihak universitas juga harus menerapkan kebijakan yang tegas terhadap segala jenis perundungan. Pemantauan atas aktivitas kemahasiswaan perlu dilaksanakan secara teratur agar penyalahgunaan kekuasaan dalam organisasi dapat dicegah. Di samping itu, perguruan tinggi harus menawarkan layanan konseling serta sistem pelaporan yang mudah dijangkau oleh mahasiswa yang menjadi korban perundungan.


Sebaliknya, mahasiswa baru juga harus diberikan pemahaman terkait hak dan kewajiban mereka sebagai anggota dari komunitas akademik. Dengan edukasi yang tepat, mahasiswa dapat lebih berani melaporkan perilaku yang tidak sesuai dan ikut membangun suasana kampus yang sehat.


Budaya menghormati, berkolaborasi, dan toleransi harus menjadi landasan dalam interaksi antara senior dan junior. Sehingga, tradisi universitas dapat terus dipelihara tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesejahteraan para mahasiswa.


Untuk mengurangi efek buruk senioritas, dibutuhkan kerja sama dari seluruh komunitas akademik. Mahasiswa senior harus menyadari bahwa fungsi mereka adalah sebagai pembimbing, bukan sebagai individu yang memiliki otoritas atas mahasiswa baru. Pengalaman yang ada seharusnya dimanfaatkan untuk membantu, memandu, dan mendukung kemajuan junior.


Senioritas adalah aspek dalam kehidupan kampus yang dapat memberikan efek baik maupun buruk. Dalam kondisi yang baik, senioritas dapat berfungsi sebagai alat pembelajaran dan pengembangan bagi mahasiswa baru. Akan tetapi, saat senioritas bertransformasi menjadi perundungan, konsekensinya bisa merusak kehidupan akademik mahasiswa, mengurangi motivasi belajar, mengganggu kesehatan mental, dan menghalangi perkembangan potensi diri.


Maka dari itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menciptakan budaya kampus yang lebih inklusif dan terhindar dari perundungan. Dengan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, organisasi mahasiswa, dan institusi pendidikan, suasana akademik yang aman dan nyaman bisa tercipta. Oleh karena itu, perguruan tinggi mampu melaksanakan perannya sebagai institusi pendidikan yang mendukung pertumbuhan intelektual, sosial, dan karakter mahasiswa secara maksimal.




Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap