Gelombang Panas Eropa 2026: Lebih dari 1.000 Orang Tewas di Prancis
BICARA INTERNASIONAL - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa terus memakan korban jiwa. Otoritas kesehatan Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan dalam sepekan terakhir, sementara Jerman mencatat rekor suhu tertinggi yang memicu kebakaran hutan di sejumlah wilayah.
Pada Minggu (28/6/2026), Badan Kesehatan Masyarakat Prancis menyatakan lonjakan angka kematian terjadi saat gelombang panas mencapai puncaknya. Pada sisi lain, polisi di Berlin bahkan menggunakan meriam air untuk mendinginkan kerumunan warga yang terdampak suhu ekstrem.
Gelombang panas juga memecahkan rekor suhu di beberapa negara Eropa dan kini bergerak menuju kawasan timur benua tersebut. Di Jerman, Dinas Cuaca Jerman (DWD) mencatat rekor baru suhu malam hari di Kubschütz, Saxony, yang mencapai 29,4 derajat celsius.
Beberapa jam sebelumnya, suhu siang hari di Mockern-Drewitz, Saxony-Anhalt, menyentuh 41,5 derajat celsius. Catatan itu melampaui rekor yang baru tercipta sehari sebelumnya.
Sementara itu, studi terbaru dari World Weather Attribution, kolaborasi ilmuwan yang berbasis di Eropa, menyimpulkan gelombang panas dan kelembapan ekstrem yang terjadi pekan ini tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim.
Penelitian yang dirilis Jumat (26/6/2026) itu menyebutkan fenomena cuaca ekstrem seperti ini hampir mustahil terjadi 50 tahun lalu dan kini memiliki kemungkinan terjadi 200 kali lebih besar dibandingkan 20 tahun lalu.
Lebih dari 1.000 Kematian Tambahan di Prancis
Badan Kesehatan Masyarakat Prancis melaporkan lonjakan signifikan angka kematian selama puncak gelombang panas, terutama di rumah-rumah pribadi, khususnya di wilayah Paris.
Pada Rabu (24/6/2026), jumlah kematian harian di Prancis mencapai lebih dari 1.200 kasus ketika suhu berada pada titik tertinggi. Angka tersebut meningkat menjadi lebih dari 1.400 kematian per hari pada Kamis dan Jumat.
Sebagai perbandingan, sebelum gelombang panas melanda, yakni pada April hingga Mei, rata-rata kematian harian di Prancis berkisar antara 900 hingga 1.000 orang. Berdasarkan data sementara, otoritas kesehatan memperkirakan terdapat sedikitnya 1.000 kematian tambahan hanya dalam tiga hari tersebut.
Namun, angka itu diperkirakan masih akan bertambah seiring masuknya laporan baru, termasuk kematian yang terjadi di rumah. Lonjakan kematian paling tinggi terjadi di wilayah yang berstatus peringatan merah akibat suhu ekstrem.
Saat puncak gelombang panas, sekitar tiga perempat wilayah Prancis berada dalam status peringatan tersebut. Otoritas kesehatan juga mencatat sekitar 85% korban meninggal berusia 65 tahun ke atas, sehingga kelompok lansia menjadi yang paling rentan terdampak gelombang panas ekstrem.
sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
