Sunday, June 28, 2026

Performativitas Tonel Tebat Patah pada Pertunjukan ANU oleh Teater TUR di TBJ


BICARA PANGGUNG - Teater TUR Jambi pergelaran naskah 'ANU' Karya Putu Wijaya, yang merupakan hasil program pelatihan tahunan bertajuk Kultur Lentur (Sabtu, 27/06/2026) di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi.


Kegiatan ini turut didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jambi melalui UPTD Taman Budaya Jambi. Adapun sumber pendanaan kegiatan berasal dari DAK Nonfisik BOP Museum dan Taman Budaya Tahun 2026 dan dikelola sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan serta prinsip akuntabilitas.


 

ANU DAN PERFORMATIVITAS TONEL TEBAT PATAH


Dalam pertunjukan ANU, menerapkan strategi pendekatan performativitas sebagaimana dikembangkan oleh Richard Schechner, di mana teater tidak lagi dipusatkan pada teks, tetapi pada aksi, energi, dan pengalaman yang terjadi di sini dan sekarang. Dalam konteks ini, gaya Tonel Tebat Patah menemukan relevansinya, yakni sebagai bentuk pertunjukan rakyat yang cair, improvisatif, dan komunikatif, di mana Tonel Tebat Patah secara inheren bersifat performatif.


Tonel Tebat Patah ditempatkan sebagai strategi penyutradaraan dan sebagai strategi dalam menghadirkan sebuah peristiwa sosial yang terjadi secara langsung antara pemain dan penonton. Para aktor mencoba menciptakan pengalaman bersama yang lahir dari tindakan, tubuh, suara, dan keterlibatan kolektif. Untuk itu, peminjaman tiga unsur struktur pertunjukan pada Tonel Tebat Patah yang diterapkan pada pertunjukan ANU ini, yaitu Beladun, Bekesah, dan Menyanyi Bersama.


Pertunjukan diawali dengan Beladun, yaitu ritual pembukaan yang berfungsi mengantar penonton memasuki dunia pertunjukan. Para pemain memasuki arena pertunjukan dari berbagai arah, mengitari panggung tapak kuda sambil membawa atribut pasar. Beladun menjadi pernyataan awal bahwa pertunjukan ini bukan hanya tentang pasar, melainkan tentang masyarakat yang sedang membangun kembali ruang hidupnya di tengah sistem yang membatasi.


Setelah ruang pertunjukan terbentuk, hadir Bekesah, yaitu tradisi bertutur yang menjadi jembatan antara cerita dan penonton. Narator atau tukang kesah tidak sekadar memperkenalkan cerita, tetapi membuka lapisan-lapisan realitas yang menjadi dasar pertunjukan. Ia berbicara tentang sistem yang merubah semuanya menjadi ANU, ANU, ANU. Bekesah menjadi alat performatif yang membangun kesadaran kolektif melalui tutur, humor, sindiran, cerita, yang dikuatkan oleh iringan musik.


Tahap berikutnya adalah Menyanyi Bersama, sebuah tradisi penting dalam pertunjukan rakyat Melayu yang mengandung semangat kebersamaan. Dalam pertunjukan ANU, nyanyian bersama menjadi simbol bahwa masyarakat masih memiliki ruang untuk berkumpul, bersuara, dan membangun solidaritas. Secara performatif, menyanyi bersama tidak hanya menghasilkan bunyi, tetapi menciptakan energi kolektif. Tubuh para pemain bergerak dalam ritme yang sama, suara mereka menyatu.


Melalui pendekatan performativitas Tonel Tebat Patah pada pertunjukan ANU tidak hanya dipentaskan sebagai lakon karya Putu Wijaya, tetapi ditafsirkan ulang sebagai peristiwa sosial dan budaya. Beladun, Bekesah, dan Menyanyi Bersama menjadi jalan untuk menghubungkan tradisi dengan persoalan sosial kontemporer, sehingga pertunjukan tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan menjadi ruang perjumpaan dan ruang refleksi bersama.

 




PENDEKATAN ARTISTIK ANU


Pertunjukan artistik ANU berangkat dari sebuah kenyataan sederhana: ketika ruang hidup masyarakat ditutup, kehidupan tidak serta-merta berhenti. Ia akan mencari celah, bergerak di pinggiran, beradaptasi, dan pada saat tertentu melakukan perlawanan. Dari gagasan inilah yang kemudian dibangun dalam pertunjukan ANU. Menghadirkan kondisi pasar dalam ANU bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi simbol kehidupan sosial masyarakat. Ketika pasar ditutup oleh “sistem”.


Ruang pertunjukan menghadirkan sebuah pasar yang telah ditutup oleh sistem. Gerbang pasar disegel oleh lembaran seng yang berdiri kokoh di tengah panggung. Seng tersebut bukan hanya elemen artistik, melainkan simbol kekuasaan yang menjadi metafora dari berbagai bentuk sistem yang bekerja dalam kehidupan sosial, birokrasi, ekonomi, politik, maupun aturan-aturan yang sering kali hadir tanpa wajah tetapi memiliki dampak nyata terhadap kehidupan rakyat kecil.


Di depan gerbang yang tertutup itu, tetap hadir meja-meja dagangan yang telah disilangkan oleh penanda garis larangan bahwa meja-meja itu telah disita. Namun orang-orang tetap berupaya untuk menghadirkan tubuh-tubuh yang terus bekerja, yang coba untuk terus dibangun. Kehadiran para pedagang menjadi gambaran tentang manusia yang terus berusaha bertahan di tengah tekanan keadaan. Mereka adalah representasi masyarakat yang tidak memiliki banyak pilihan selain terus bergerak.


Pendekatan artistik ANU menempatkan panggung sebagai ruang yang tertutup secara sistemik, di mana aktivitas ekonomi dan sosial tidak lagi berlangsung secara bebas, melainkan dibatasi, dikendalikan, bahkan disensor oleh kekuatan yang tidak terlihat. Dalam ruang ini, layar siluet (shadow screen) digunakan sebagai medium utama untuk menghadirkan dunia yang terbelah, dunia nyata (pedagang, pasar, tubuh aktor), dunia bayangan (sistem, kekuasaan, struktur ekonomi-politik).


Secara visual, pertunjukan ini memanfaatkan kontras antara ruang nyata dan ruang simbolik. Dunia pasar yang hidup ditempatkan di bagian depan panggung, sementara gerbang tertutup dan layar-layar siluet menghadirkan dunia bayangan di belakangnya. Bayangan-bayangan yang muncul pada layar menjadi representasi dari sistem yang tidak terlihat tetapi selalu hadir. Sistem tersebut tidak pernah tampil sebagai tokoh tertentu, melainkan sebagai kekuatan abstrak.


Warna artistik pertunjukan bergerak dari realisme menuju absurditas. Suara bertumpuk, gerak diulang tanpa henti, percakapan kehilangan arah, dan kata “ANU” terus bergema sebagai simbol sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan. Ia bisa berarti kekuasaan, kebijakan, ketakutan, harapan, atau bahkan kehidupan itu sendiri. Dalam semangat teater Putu Wijaya, absurditas tidak digunakan untuk menjauhkan penonton dari kenyataan, melainkan untuk memperlihatkan kenyataan itu dari sudut yang berbeda. (*/)









Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap