Kultur Lentur Teater TUR Jambi Persembahkan 'ANU' di TBJ
BICARA PANGGUNG - Teater TUR Jambi pergelaran naskah 'ANU' Karya Putu Wijaya, yang merupakan hasil program pelatihan tahunan bertajuk Kultur Lentur (Sabtu, 27/06/2026) di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi.
Pergelaran berlangsung dua kali pada siang dan sore hari itu, disutradarai oleh Ady Santoso, yang diperankan oleh siswa dari berbagai sekolah menengah atas sederajat di kota Jambi, yaitu:
1. M. Ghazi Al- Ghazali (SMA IT Nurul Ilmi Jambi)
2. Adib Raziq Zarnazi (SMAN 5 Kota Jambi)
3. Bisma Rama (SMKN 4 Kota Jambi)
4. Naila Nuzul Salsabila (SMAN 5 Kota Jambi)
5. Khalishah Juliandri Ningrum (SMAN 4 Kota Jambi)
6. Kadek Billy Artha (SMAN 4 Kota Jambi)
7. Siti Mutya A. Zahira (MAN 2 Kota Jambi)
8. Dhia Syafa Nailah (MAN 2 Kota Jambi)
9. Ratu Alifah Maharani (MAN 2 Kota Jambi)
10.Arta Pasha (SMAN 5 Kota Jambi)
11.M. Irsyad Mubassir (MAN 2 Kota Jambi)
12.Maharani Putri Aries (MAN 2 Kota Jambi)
13.Yayu Threetina Simamora (SMAN 5 Kota Jambi)
Kegiatan ini turut didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jambi melalui UPTD Taman Budaya Jambi. Adapun sumber pendanaan kegiatan berasal dari DAK Nonfisik BOP Museum dan Taman Budaya Tahun 2026 dan dikelola sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan serta prinsip akuntabilitas.
SINOPSIS ANU
Di sebuah pasar tua yang telah ditutup oleh sistem, gerbang-gerbang pasar telah disegel, akses perdagangan dibatasi, dan ruang ekonomi rakyat perlahan dipaksa menghilang dari kehidupan. Di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian politik, dan keretakan sosial, para pedagang mencoba bertahan. Mereka berunding, bercanda, bertengkar, bernyanyi, dan saling menguatkan. Namun ketika ruang hidup mereka semakin sempit, mereka mulai mempertanyakan keadaan yang selama ini diterima begitu saja. Sedikit demi sedikit, lahir keberanian untuk melawan sistem yang rentan dan rusak dengan terus melontarkan dan terus mengulang satu kata, yakni "ANU".
Dalam kondisi yang tengah serba kacau, bahkan pada bahasa dan pemahaman, hadir sebuah sistem sosial yang lebih besar—sebuah struktur yang mengatur, membatasi, namun tidak pernah sepenuhnya terlihat. "ANU" tidak lagi sekadar kata dalam percakapan, tetapi berubah menjadi cermin dari cara masyarakat berkomunikasi, berkuasa, dan bertahan hidup dalam ketidakjelasan. Pada akhirnya, tidak ada jawaban tentang apa sebenarnya "ANU". Yang tersisa hanyalah perasaan bahwa setiap orang pernah berada di dalamnya, mengucapkannya, atau menjadi bagian darinya, sadar ataupun tidak.
Melalui bahasa yang absurd, humor yang getir, serta peristiwa-peristiwa yang penuh patahan ala teater Putu Wijaya, ANU menghadirkan potret masyarakat yang hidup di bawah bayang-bayang sistem yang tak pernah benar-benar terlihat, tetapi dampaknya selalu dirasakan. Pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban tentang apa sebenarnya "ANU". Sebab "ANU" bukanlah satu benda, bukanlah satu orang, dan bukan pula satu peristiwa. "ANU" adalah segala sesuatu yang hadir dalam kehidupan manusia, tetapi sulit dijelaskan; sesuatu yang mengendalikan, membatasi, sekaligus memaksa manusia untuk terus bertanya.
Lakon ini bergerak tanpa kepastian alur yang linier. Adegan-adegan saling menyela, situasi berubah tanpa penjelasan, dan konflik tidak pernah benar-benar menemukan penyelesaian. Justru dalam ketidakjelasan itulah, lakon ANU menyingkap bagaimana manusia hidup di dalam sistem yang penuh ambiguitas, di mana bahasa tidak selalu menjelaskan, tetapi justru menyembunyikan. "ANU" menjadi cermin masyarakat yang terus berusaha bertahan, bernegosiasi, dan melawan di tengah sistem yang terus berubah. Di antara pasar yang ditutup dan kehidupan yang terus berjalan, satu pertanyaan tetap bergema: "Sebenarnya, siapa ANU?"
TENTANG KULTUR LENTUR
KULTUR LENTUR merupakan sebuah program pelatihan teater tahunan yang digagas oleh Teater TUR Jambi sebagai ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang berproses bagi pelajar tingkat SMA/sederajat.
KULTUR LENTUR merupakan kependekan dari Kumpul Latihan Teater Lalu Pentas Bareng Teater TUR Jambi, sebuah konsep sederhana yang berangkat dari keyakinan bahwa kemampuan berkesenian tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh melalui pertemuan, latihan, pengalaman, dan keberanian untuk tampil di hadapan publik. Oleh karena itu, KULTUR LENTUR tidak hanya dirancang sebagai pelatihan teater semata, tetapi sebagai proses pembentukan karakter, kreativitas, dan kesadaran kolektif generasi muda melalui seni pertunjukan.
Tahun 2026 menandai pelaksanaan tahun kedua KULTUR LENTUR. Program ini secara khusus menyasar pelajar SMA, SMK, dan MA sederajat karena kelompok usia tersebut berada pada fase penting dalam pembentukan identitas diri. Pada masa inilah para pelajar mulai mencari cara untuk memahami dunia, mengekspresikan gagasan, serta membangun kepercayaan diri. Teater menjadi medium yang tepat karena di dalamnya terdapat proses belajar yang menyeluruh: belajar mendengar, belajar berbicara, belajar bekerja sama, belajar memahami orang lain, dan belajar memahami diri sendiri. Program ini juga membawa semangat untuk mempertemukan nilai-nilai tradisi dengan perkembangan praktik teater kontemporer.
KULTUR LENTUR tidak memosisikan peserta sebagai calon aktor semata, melainkan memandang pelajar sebagai individu yang memiliki potensi untuk menjadi agen budaya di lingkungannya masing-masing. Melalui latihan olah tubuh, olah vokal, improvisasi, penciptaan adegan, pembacaan naskah, hingga produksi pertunjukan, peserta diajak untuk memahami bahwa teater adalah ruang berpikir, ruang dialog, dan ruang refleksi terhadap berbagai persoalan kehidupan. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik-teknik dasar teater modern, tetapi juga diajak mengenal kekayaan budaya lokal sebagai sumber penciptaan. Dengan demikian, pelatihan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan keberanian bereksperimen dan berinovasi.
Pelaksanaan tahun kedua ini juga menjadi bagian dari upaya membangun regenerasi ekosistem teater di Jambi. KULTUR LENTUR berupaya menempatkan dirinya sebagai investasi kebudayaan dengan menumbuhkan generasi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kemampuan berkolaborasi, serta keberanian untuk menyampaikan gagasan melalui medium seni.
Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, KULTUR LENTUR terus berupaya menegaskan posisinya sebagai laboratorium pembelajaran teater bagi pelajar di Jambi. Sebuah ruang di mana anak-anak muda dapat berkumpul, berlatih, bertukar pengalaman, membangun persahabatan, dan pada akhirnya berdiri bersama di atas panggung untuk merayakan proses yang telah mereka lalui.
Karena pada akhirnya, teater bukan hanya tentang pertunjukan. Teater adalah tentang perjalanan, dan KULTUR LENTUR adalah ruang yang memungkinkan perjalanan itu dimulai.
Itulah semangat KULTUR LENTUR.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
