Kala Posthuman: Dramaturgi Tanah, Teknologi, dan Kekuasaan
Catatan Dramaturgis: Prof. Dr. Yudiaryani, M.A.
"Aku melahirkan manusia. Tetapi manusialah yang menciptakan Kala." Kalimat pembuka Desa di Mulut Kala menjadi tesis utama pertunjukan ini. Kala tidak lagi dimaknai sebagai raksasa dalam mitologi Jawa, melainkan sebagai metafora sistem yang lahir dari persekutuan teknologi, kapitalisme, kekuasaan, birokrasi, dan logika pembangunan yang kehilangan dimensi etik.
Pertunjukan ini mereinterpretasi mitologi Jawa melalui perspektif posthuman. Kala Posthuman bukan robot atau cyborg, melainkan jaringan kekuasaan yang bekerja melampaui individu. Ia hadir di pusat data, kawasan industri, ruang investasi, hingga cara berpikir manusia modern. Dengan demikian, ancaman terbesar bukan lagi makhluk gaib, tetapi sistem yang diciptakan dan dipelihara manusia sendiri.
Tanah menjadi pusat dramaturgi pertunjukan. Tanah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan ruang kehidupan, ingatan, dan kebudayaan. Konflik yang dihadirkan bukan pertarungan antara tokoh baik dan jahat, tetapi benturan antara tanah dan kapital, tradisi dan teknologi, serta kemanusiaan dan kekuasaan. Tokoh-tokohnya lebih merepresentasikan posisi sosial daripada karakter individual.
Bahasa artistik pertunjukan dibangun melalui perpaduan tubuh aktor, puisi, musik tradisi, lanskap bunyi, visual intermedial, dan simbol-simbol mitologi Jawa. Unsur-unsur tersebut tidak sekadar menjadi ilustrasi, melainkan membentuk ruang dramaturgis yang mempertemukan memori budaya dengan realitas kontemporer. Dengan demikian, penonton tidak hanya menyaksikan representasi konflik agraria, tetapi juga mengalami sebuah refleksi tentang bagaimana teknologi, kekuasaan, dan kapital mengubah relasi manusia dengan tanah, alam, dan dirinya sendiri.
Kebaruan karya ini terletak pada penciptaan konsep Kala Posthuman sebagai reinterpretasi mitologi Jawa untuk membaca krisis kontemporer. Pertunjukan ini tidak menolak teknologi, melainkan mempertanyakan arah penggunaannya: apakah ia menopang kehidupan atau justru menelan manusia dan tanah yang menjadi asal-usulnya. Pada akhirnya, Desa di Mulut Kala mengajak penonton bertanya: APAKAH KALA BERADA DI LUAR DIRI KITA, ATAU JUSTRU HIDUP DALAM SISTEM YANG KITA BANGUN SETIAP HARI?
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
