Sabtu, 03 Oktober 2026

Forweb Jambi, Capacity Building: Menelusuri Jejak Candi Borobudur


BICARA PENDIDIKAN
- Forum Wartawan Ekonomi Bisnis (Forweb) Jambi diboyong Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jambi mengunjungi candi Borobudur, Jawa Tengah, Sabtu (3/10/2026) pagi. 


Dikatakan Robby Fathir Nashary Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi, tujuan Forweb diajak kunjungi candi Borobudur adalah untuk menggali secara langsung keterkaitan sejarah dengan candi Muarojambi.


Robby sedikit mengutip dari beberapa literatur keterkaitan sejarah candi Borobudur dan Muarojambi. Dikatakannya, candi Muarojambi dalam catatan sejarah merupakan pusat pendidikan tinggi agama Buddha pada sekitar abad ke-7.


Dikutip dari Kompasiana, berdasarkan informasi dari Prasasti Karang Berahi (abad ke-7), daerah Jambi (Melayu) telah diduduki oleh Sriwijaya. Seorang musafir Tiongkok yang datang ke Mo-lo-yeu (Malayu/Jambi) pada abad ke-7 mengatakan Melayu telah menjadi Sriwijaya.

 

Muaro Jambi pernah berfungsi sebagai kampus agama Buddha. Pendeta Yi-jing (I-tsing) mengatakan sebelum ke Nalanda, sebaiknya belajar agama Buddha terlebih dulu di Sumatera (Muarojambi). Nalanda merupakan kampus agama Buddha terbesar di India. Dalam Prasasti Nalanda diinformasikan sebuah wihara yang dibangun di Nalanda untuk para pelajar dari Sriwijaya dan Jawa.


Dr. Agus Widiatmoko, arkeolog yang meneliti Muaro Jambi mengatakan, saat Kerajaan Sriwijaya berjaya sekitar abad ke-8, mereka mengutus para mahasiswa untuk ke Universitas Nalanda. Kala itu Sriwijaya membangun 2.000 kamar dan satu perpustakaan untuk para mahasiswa di India.


Diperkirakan, saat ajaran Buddha di India mengalami kehancuran karena invasi dari negara lain, maka Universitas Nalanda berpindah ke Sumatera atau Muaro Jambi. Lulusan Muaro Jambi kemudian melakukan reformasi agama di Tibet.


“Nah harapannya nanti dari situ teman-teman wartawan bisa membangun cerita bisa membangun narasi tentang bagaimana konektivitas, keterkaitan antara Candi Muaro Jambi dengan Borobudur atau intinya adalah peninggalan agama Buddha di Jawa Tengah dengan yang ada di Candi muara Jambi,” ujar Robby ditemui usai keliling candi Borobudur, Sabtu (3/10/2026) siang.


“Dan kemudian bagaimana itu kemudian bisa dirangkaikan sebagai sebuah narasi, sebuah story telling yang elok, yang nanti bisa memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Baik itu bagi Yogja maupun bagi Jambi. Harapannya akan semakin banyak orang yang datang ke Jogja, kemudian orang yang datang ke Jambi.”


“Dan kita juga tahu bahwa Jambi itu bandaranya bukan bandara internasional. Jadi kalau kita mengharapkan wisatawan mancanegara datang ke Jambi, aksesibility-nya enggak mungkin langsung. Pasti harus ada satu tempat. Nah, kalau ada Yogjakarta sebagai salah satu partnernya kita, maka akan menguntungkan Jambi,” jelas Robby.


Bukti lain yang dipaparkan Robby bahwa terdapat keberadaan Makara batuan andesit yang menempel di pintu gerbang candi Kedaton, Muarojambi. Dimana, sangat mustahil batu andesit didapatkan di sekitar kawasan Jambi. Terlebih, candi Muarojambi semuanya terbuat dari bahan batu bata merah.


“Artinya pada periode masa itu juga besar kemungkinan ada figur yang sangat dihormati di Candi Muarajambi atau Candi Muarajambi itu sendiri, yang memang dihormati sebagai sentral pendidikan. Sehingga ada orang yang datang ke sana membawa ketika datang ke sana bertemu dengan maha guru, bertemu dengan orang yang dihormati. Kemudian itu dipasang di sana sebagai bentuk penghormatan dan lain-lain,” jelas Robby.


Sebagai pusat ajaran Buddha yang lebih dulu eksis di jalur perdagangan Sumatra (Sriwijaya-Melayu), Kompleks Muaro Jambi yang dibangun awal abad ke-5 sampai abad ke-7 diyakini turut menyumbang model tata ruang mandala dan acuan keagamaan yang menginspirasi dinasti-dinasti pembangun monumen Buddha di Nusantara, termasuk Wangsa Syailendra yang membangun Borobudur pada abad ke-8.


“Pertanyaannya kan yang paling sederhana adalah, kalau Borobudur sudah dibuat dengan teknologi secanggih itu, apakah mungkin Borobudur dibangun tanpa adanya ilmu pengetahuan. Pasti ada ilmu pengetahuan orang yang mendesain atau membangun Borobudur, pasti belajar dari suatu tempat.”


“Dan kalau kita melihat pengetahuan waktunya, ada kemungkinan bahwa yang mendesain Borobudur ini belajar dari sentra penyebaran agama Buddha pada masa itu. Salah satunya dari Tibet. Kita ketahui di Candi Muaro Jambi ada Mahaguru di sana, guru agama bernama Dharma Kirti. Nah salah satu muridnya yakni Atisha Dipamkara Srijnana dan menyebarkan ajaran Buddha di Tibet,” ujar Robby.


Ada benang merah bahwa tata letak dan desain candi Borobudur berdasarkan ajaran Buddha yang didapat dari Tibet yang belajar dari Muarojambi jauh sebelum Candi Borobudur berdiri. Secara tidak langsung, ilmu yang didapat Atisha Dipamkara Srijnana yang belajar dari Dharma Kirti, diserap dalam membangun Borobudur.


Penjelasan serupa disampaikan Dayat selaku storyteller di museum Borobudur. Ditemui usai keliling museum, Dayat menceritakan tak jauh berbeda yang disampaikan Robby.


“Kita harus bangga, di abad ke-5 di Nusantara ini sudah ada peradaban di Muarojambi,” ujarnya.





..........
Agar kami terus tumbuh dan selalu sajikan informasi bermanfaat. Dukung bicarajambi.com, klik disini: TRAKTIR KOPI https://trakteer.id/hendry_noesae/gift

Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN

Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap