Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah: Gerakan Nasional Lawan Krisis Fatherless
BICARA PENDIDIKAN - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) bersama BKKBN resmi menerbitkan Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2025 tentang Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah, berlaku efektif pada 14 Juli 2025. Inisiatif ini adalah bagian dari Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), sebuah upaya nasional untuk mengatasi fenomena fatherless yang saat ini melanda hampir seperlima anak di Indonesia.
Menurut data UNICEF dan BKKBN, sebanyak 20,9% anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah secara emosional. Data ini bukan sekadar soal ayah yang tidak tinggal serumah, tetapi juga tentang ayah yang hadir secara fisik tapi tidak benar-benar terlibat dalam kehidupan atau tumbuh kembang anak.
Maka, mengantar anak ke sekolah pada hari pertama bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi simbol pemulihan peran ayah dalam membangun ikatan emosional yang utuh dan sehat sejak usia dini.
The Four S’s: Pilar Kehadiran Emosional Seorang Ayah
Dalam buku The Power of Showing Up karya Dr. Daniel J. Siegel dan Dr. Tina Payne Bryson, ditegaskan bahwa anak yang mendapatkan kehadiran emosional orangtua secara konsisten akan tumbuh dengan ketangguhan emosional yang lebih kuat. Kehadiran ini tidak harus sempurna, tetapi cukup konsisten, penuh perhatian, dan menguatkan.
Empat pilar utama dalam konsep ini dikenal sebagai The Four S’s:
1. Seen (Dilihat):
Anak perlu merasa bahwa mereka diperhatikan secara utuh—bukan sekadar dilihat dengan mata, tetapi dipahami dengan hati.
Seorang ayah yang hadir mampu menangkap perubahan emosi anak, membaca kegelisahan yang tak diucap, dan memahami kebutuhan emosional tanpa menunggu anak meminta. Ketika anak merasa seen, ia tahu bahwa dirinya penting dan dihargai.
2. Safe (Aman):
Kehadiran ayah menciptakan rasa aman secara emosional dan fisik. Rasa aman ini bukan hanya dari ancaman luar, tetapi juga dari tekanan internal seperti rasa takut, malu, atau cemas.
Ayah yang tidak menghakimi, tidak meremehkan, dan tidak keras dalam memberi batasan akan menjadi figur tempat anak berlindung saat dunia di luar terasa menekan.
3. Soothed (Ditenangkan):
Setiap anak akan mengalami kekecewaan, kegagalan, atau ketakutan. Ayah yang hadir akan tahu kapan anaknya membutuhkan pelukan, kata-kata lembut, atau sekadar duduk bersama dalam diam.
Kemampuan menenangkan inilah yang membantu anak membentuk mekanisme regulasi emosi. Ketika seorang anak tahu bahwa ayahnya bisa membuatnya tenang, ia akan belajar bagaimana menenangkan dirinya sendiri di masa depan.
4. Secure (Merasa Aman Secara Konsisten):
Ketika keempat elemen sebelumnya konsisten diberikan, anak akan membangun secure attachment atau keterikatan emosional yang sehat dengan ayahnya. Hal ini memengaruhi cara anak membangun hubungan di masa depan, baik dengan teman, pasangan, maupun lingkungan kerja. Anak akan tumbuh dengan kepercayaan diri, mampu menetapkan batasan yang sehat, dan mengenal rasa hormat.
Konsep The Four S’s bisa dihadirkan dalam tindakan-tindakan sederhana, misalnya mendengarkan cerita anak sebelum tidur, melibatkan diri dalam diskusi kecil seputar minat anak, atau sekadar meluangkan waktu hadir secara penuh—tanpa terganggu oleh gawai atau pekerjaan.
Mengantar Anak Merupakan Titik Awal
Program Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah tentu bukan solusi tunggal atas krisis keterlibatan ayah. Tapi ini adalah titik mula yang simbolik untuk menegaskan bahwa kehadiran ayah dibutuhkan dalam proses tumbuh dan berkembang anak secara menyeluruh.
Ayah yang bijak tidak hanya hadir saat anak memulai tahun ajaran baru. Seoarang ayah semestinya hadir dalam percakapan sehari-hari, dalam kegagalan dan keberhasilan anak, dalam kesedihan dan kegembiraan.
Anak membutuhkan ayah sebagai teman belajar, sahabat bermain, pemandu moral, dan penyemangat saat mereka merasa kecil di dunia yang besar.
Kehadiran yang dimaksud bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan emosional. Sebab anak yang didampingi ayah tidak hanya merasa dicintai, tetapi juga merasa layak untuk dicintai.
Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah Merupakan Langkah Simbolik Sekaligus Strategis
Melansir laman Liputan6.com (15/07/2025), Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, mengajak para ayah untuk berperan aktif dalam momen awal pendidikan anak dengan cara sederhana namun bermakna: mengantar anak ke sekolah di hari pertama tahun ajaran baru, Senin, 14 Juli 2025.
Tindakan ini diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, melainkan awal dari kedekatan emosional yang lebih kuat antara ayah dan anak, terutama di jenjang pendidikan dasar seperti TK dan SD.
Seruan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Kemendukbangga/BKKBN Nomor 7 Tahun 2025 yang menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan sejak dini.
Menurut Wihaji, Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah merupakan langkah simbolik sekaligus strategis untuk mendorong kesadaran kolektif bahwa kehadiran dan partisipasi langsung ayah di lingkungan pendidikan anak sangat krusial dalam membentuk karakter dan rasa aman sejak awal.
Dari Kesadaran Pribadi Menuju Gerakan Kolektif
partisipasi para ayah tidak hanya dicatat dalam presensi atau dokumentasi foto dengan tagar #GATI dan #SekolahBersamaAyah. Lebih dari itu, ini adalah gerakan perubahan kesadaran yang berangkat dari keluarga menuju ruang publik.
Gerakan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi kolektif. Ketika satu ayah memilih hadir, keluarga berubah.
Ketika banyak ayah hadir, masyarakat menjadi lebih sehat secara emosional. Krisis fatherless hanya dapat diatasi bila setiap ayah memutuskan untuk menanggalkan jarak dan menggantinya dengan kedekatan.
Dan kedekatan itu dimulai dari niat sadar untuk menemani proses, bukan sekadar menjadi penonton dalam hidup anak. Dari sana, akan lahir generasi Indonesia yang tidak hanya cerdas, tapi juga berdaya secara emosional.
Momen untuk Memulai Ulang
Gerakan ini bukan panggilan untuk menjadi ayah sempurna. Tapi ini adalah undangan untuk menjadi ayah yang lebih hadir, lebih sadar, dan lebih terhubung. Anak tidak membutuhkan ayah yang tahu semua jawaban, tetapi ayah yang mau berjalan bersamanya mencari jawaban.
Mengantar anak ke sekolah adalah langkah kecil yang bisa membawa dampak besar. Tapi jangan berhenti di sana. Mari lanjutkan langkah itu ke ruang-ruang kehidupan lainnya. Menjadi pendengar saat anak merasa gagal. Menjadi pelindung saat anak butuh perlindungan. Menjadi sahabat yang tidak pernah meninggalkan meski dunia berubah.
Di tengah dunia yang cepat dan menuntut, kehadiran ayah adalah jangkar yang membuat anak tetap stabil. Dan pada akhirnya, kehadiran itu akan menjadi warisan paling berharga dalam ingatan anak, jauh lebih besar dari apa pun yang bisa diwariskan oleh materi.
Sumber: fimela.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom