Wednesday, September 17, 2025

Saat Akal Imitasi Jadi Guru Kedua Siswa, Efektif atau Berisiko?


BICARA TEKNOLOGI -
 Akal Imitasi atau Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin merambah ke berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Salah satu bidang yang mulai banyak memanfaatkan teknologi ini adalah dunia pendidikan.


Banyak siswa kini menggunakan AI sebagai referensi belajar karena dapat membantu menjawab soal, merangkum bacaan, hingga menjelaskan konsep yang sulit dipahami di kelas.


Kehadiran AI dianggap mampu memberikan kemudahan sekaligus memperluas akses informasi bagi siapa saja yang membutuhkan.


Namun, penggunaan AI dalam pendidikan juga menimbulkan pro dan kontra. Gagasan mengenai pemanfaatan AI oleh sejumlah tokoh besar sebagai pendukung proses belajar siswa sempat menuai sorotan publik.


Kalangan pendidik, praktisi teknologi pendidikan, hingga orang tua memberikan beragam tanggapan. Sebagian melihat potensi besar dari teknologi ini, sementara sebagian lainnya khawatir terhadap risiko yang mungkin timbul, seperti misinformasi atau menurunnya kemampuan berpikir kritis siswa.


Riset tentang AI sebagai Referensi Belajar

Sejumlah akademisi telah meneliti dampak penggunaan AI dalam pembelajaran. Salah satunya adalah penelitian berjudul "CHAT GPT Sebagai Era Baru Dalam Transformasi Pembelajaran: Systematic Learning Review" yang dilakukan oleh Kusworo, Goreta, Hanafi, Susanto, dan Astuti pada 2024.


Kajian tersebut diterbitkan dalam Susunan Artikel Pendidikan (SAP) Volume 8 Nomor 3 April 2024 dan memberikan beberapa temuan penting.


Implementasi ChatGPT dalam proses belajar terbukti dapat memengaruhi kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa. Teknologi ini juga memberikan pengalaman belajar yang lebih personal, efektif, serta mampu menghadirkan umpan balik yang cepat.


ChatGPT memudahkan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas kognitif sekaligus mempercepat akses informasi yang relevan. Penelitian ini menunjukkan ChatGPT mampu menyesuaikan dukungan belajar dengan daya serap dan perkembangan kognitif siswa, sehingga hasil belajar menjadi lebih optimal.


Selain riset dari akademisi Indonesia, terdapat pula penelitian internasional yang membahas peran AI dalam pendidikan. Salah satunya adalah kajian berjudul “Impact of the Implementation of ChatGPT in Education: A Systematic Review” yang dilakukan oleh Montenegro-Rueda, Fernández-Cerero, Fernández-Batanero, dan López-Meneses pada 2023, diterbitkan di jurnal Computers.


Hasil penelitian tersebut menyimpulkan penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran dapat meningkatkan akses terhadap informasi secara cepat dan efisien, membantu siswa memahami konsep yang kompleks melalui penjelasan adaptif, serta memfasilitasi personalisasi pengalaman belajar sesuai kebutuhan masing-masing siswa.


Namun, riset ini juga menegaskan adanya tantangan, antara lain risiko bias informasi, akurasi jawaban yang tidak selalu tepat, serta potensi penyalahgunaan untuk plagiasi akademik.


Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pembelajaran perlu diimbangi dengan literasi digital dan pengawasan pendidik.


Dampak Positif dan Negatif AI dalam Pembelajaran

Meski membawa banyak manfaat, penggunaan AI seperti ChatGPT juga menyimpan potensi risiko. Dampaknya dapat bersifat positif maupun negatif, baik bagi individu, masyarakat, maupun lembaga pendidikan.


AI berpotensi meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga menimbulkan tantangan etis. Salah satunya adalah kekhawatiran terkait kejujuran akademik.


Ada kemungkinan siswa menggunakan AI untuk menyontek saat ujian atau menyelesaikan tugas tanpa benar-benar memahami materi. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, kemampuan berpikir kritis siswa bisa berkurang dan mengganggu kualitas pembelajaran jangka panjang.


Selain itu, pelaksanaan ujian secara online juga membuka peluang kecurangan karena siswa bisa menjadikan AI sebagai alat bantu instan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang integritas akademik di era digital.


Tantangan Guru dalam Menghadapi Perkembangan AI

Penerapan AI dalam pendidikan tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi juga pada guru. Para pendidik dihadapkan pada tantangan besar untuk beradaptasi.


Mereka perlu mengubah metode pengajaran, memahami cara kerja teknologi baru, serta menjalani pelatihan agar bisa memanfaatkannya dengan tepat.


Proses adaptasi ini tentu memerlukan waktu dan strategi yang matang. Tanpa persiapan yang baik, guru bisa kesulitan mengimbangi perkembangan teknologi dan menyesuaikan pola pembelajaran dengan kebutuhan siswa yang sudah terbiasa menggunakan AI.


Peralihan dari metode pembelajaran konvensional ke pemanfaatan AI merupakan bagian dari transformasi besar dalam dunia pendidikan. Agar transformasi ini berhasil, penerapan AI harus dirancang dengan bijak.


Tujuan utama bukan sekadar memudahkan siswa mengerjakan tugas, melainkan mendukung terciptanya generasi yang mandiri, kritis, dan memiliki etika akademik yang kuat.


AI memang membawa peluang besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti.


Sumber: beritasatu.com



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com