Jumat, 17 Juli 2026

Jali 'Kipa Ku Gagalai' di Jambi Cultural Fest 2026


BICARA PANGUNG
- Kipa Ku Gagalai merupakan karya tari yang berangkat dari kehidupan masyarakat Mentawai. Dalam bahasa Mentawai, Kipa Ku Gagalai merupakan ungkapan yang menggambarkan keadaan ketika seseorang berada di tengah ketidakpastian. 


Berpijak pada filosofi Arat Sabulungan yang memandang alam sebagai subjek kehidupan, karya ini menghadirkan tubuh sebagai ruang yang menyimpan jejak ritus, sejarah, trauma, dan harapan.


Tubuh dalam karya ini bukan simbol kemurnian adat maupun representasi modernitas, melainkan tubuh yang terus bernegosiasi dengan agama, negara, ekonomi, dan budaya. 


Melalui pengalaman personal sebagai pewaris adat Mentawai, karya ini menggunakan pemaknaan grey area sebagai refleksi bahwa kehidupan tidak selalu hadir dalam pilihan hitam atau putih, tetapi berlangsung di dalam ruang abu-abu yang terus membentuk identitas manusia.


Itulah Sinopsis dari KIPA KU GAGALAI
Tim Produksi Karya Kipa Ku Gagalai
Koreografer : Jali S,Sn
Komposer   : Rofri Hendri S.Sn.,M.Sn
Pemusik : Muhammad Hadi Habib S.Sn.,M.Sn
Administrasi Produksi : Dewi Safitri, Hafizatul Rahmi
 
Penari : Maresha Ananda Marza, Devina Fidela, Irtiza Nurmaulida Irvan
Penata kostum : Junaisya Syifatul Qolbi, Suci Rahmadani



Kegiatan yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jambi melalui UPTD Taman Budaya Jambi ini, untuk tahun 2026 meluaskan jangkauannya se-Indonesia yang akan diikuti 6 Koreografer. Sebelumnya JCF 2025 berasal dari 4 provinsi di pulau Sumatera, JCF 2024 asal Jambi 4 koreografer.

Jambi Cultural Fest (JCF) 2026 yang diselenggarkan oleh Yayasan Arus Budaya, pada 16 s.d 18 Juli 2026 di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi.

JCF 2026 Akan ada sajian Utama 6 koreografer dari berbagai provinsi di Indonesia, Keenam koreografer yang terpilih adalah:

1. Tri putra Mahardhika, asal Jambi

2. ⁠Muhammad Fahrul, asal Kalimantan Barat

3. Fachri matlawa, asal Papua

4. ⁠Shafira emeralda, asal Bangka belitung

5. ⁠I Putu Oka Surya Pratama, asal Bali

6. ⁠Ahmad Ghozali, asal Mentawai-Sumatera Barat


"Adapun tema JCF 2026, kami mengangkat tradisi masyarakat asli setempat "bukan sebagai kenangan, melainkan jawaban" di tegah Krisis sosial yang merenggut gotong royong, tradisi mengajarkan Kembali kebersamaan. Dalam tekanan ekonomi yang meminggirkan yang kecil, kearifan lokal menawarkan ekonomi yang adil dan berakar," Terang Ichalago, Direktur Festival.


"Saat lingkungan terancam oleh eksploitasi, masyarakat asli justru menjaga bumi dengan hormat. Tema ini mengajak kita pulang, bahwa menyelamatkan tradisi sama dengan menyelamatkan manusia, mata pencaharian dan alam. Bukan nostalgia, tetapi Gerakan hidup untuk masa depan yang lebih manusiawi," Tambahnya lagi. (*/)








Berita Terkait:






.............
Agar kami terus tumbuh dan selalu sajikan informasi bermanfaat. Dukung bicarajambi.com, klik disini: TRAKTIR KOPI https://trakteer.id/hendry_noesae/gift

Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN

Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap