'SA GO' oleh Fachry Matlawa: Menolak Kehilangan Ingatan dan Pijakan atas Tanahnya
BICARA PANGGUNG - Karya ini membawa kita berkaca pada hubungan antara tubuh, makanan, dan alam tempat kita tumbuh. Terinspirasi dari tanah Papua, Penata Musiknya KIBI, koreografer dan penari Fachry Matlawa, menghadirkan sebuah karya tari tunggal berjudul SA GO (Jum'at, 17/07/2026) di Taman Budaya Jambi
Berangkat dari kegelisahan terhadap penyeragaman pola makan hari ini, Fachry memilih Kembali ke pangan lokalnya:papeda. Namun,di panggung ini, tubuh Fachry tidak berniat meniru atau menyerupai bentuk papeda. Tubuh justru diposisikan untuk belajar dari perilakunya yang elastis, melar, dan hanya bisa bertahan jika terus-menerus diaduk.
Melalui gerakan berputar yang berulang tanpa henti hingga kehilangan keseimbangan, karya ini memperlihatkan bagaimana tubuh kita bertahan di bawah tekanan ritme dunia saat ini. Ditengah menyusutnya hutan-hutan sagu di Papua, SA GO menjadi sebuah protes nyata dari sebuah tubuh yang menolak kehilangan ingatan dan pijakan atas tanahnya.
Asal: Papua
Ayi panggilan akrabnya adalah pemuda berdarah Sulawesi namum tumbuh dan besar di Papua. Ia adalah seniman yang tumbuh dan pikirannya tak pernah lepas dari denyut tanah Papua.
Fokusnya bukan sekedar estetika, ia menggumuli isu-isu hanya dari tanah Papua dengan cara yang otentik, keras, tapi tak pernah kehilangan ruh. Setiap karya yang belakangan kerap ia pentaskan adalah luapan dari tubuh Papua yang hidup tak bisa dibungkam, tak bisa dipalsukan.
JCF 2026 Akan ada sajian Utama 6 koreografer dari berbagai provinsi di Indonesia, Keenam koreografer yang terpilih adalah:
1. Tri putra Mahardhika, asal Jambi
2. Muhammad Fahrul, asal Kalimantan Barat
4. Shafira emeralda, asal Bangka belitung
5. I Putu Oka Surya Pratama, asal Bali
6. Ahmad Ghozali, asal Mentawai-Sumatera Barat
"Adapun tema JCF 2026, kami mengangkat tradisi masyarakat asli setempat "bukan sebagai kenangan, melainkan jawaban" di tegah Krisis sosial yang merenggut gotong royong, tradisi mengajarkan Kembali kebersamaan. Dalam tekanan ekonomi yang meminggirkan yang kecil, kearifan lokal menawarkan ekonomi yang adil dan berakar," Terang Ichalago, Direktur Festival.
"Saat lingkungan terancam oleh eksploitasi, masyarakat asli justru menjaga bumi dengan hormat. Tema ini mengajak kita pulang, bahwa menyelamatkan tradisi sama dengan menyelamatkan manusia, mata pencaharian dan alam. Bukan nostalgia, tetapi Gerakan hidup untuk masa depan yang lebih manusiawi," Tambahnya lagi. (*/)
Yayasan Arus Budaya Penyelenggara Jambi Cultural Festival 2026
Inilah 6 Koreografer Jambi Cultural Festival 2026
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
.jpeg)
